Senin, 22 Juli 2019

Terbaru 2020 - DATABASE DENGAN MS. ACCES

Resep Masakan Terbaru





I. Pendahuluan
            Ms. Acces merupakan salah satu software pengolah database yang terdapat dalam MS. Office. Selain MS. Acces masih ada software lain diantaranya MS. FoxPro,
Wwin32.anf
dBase II, Multiplan, dll.
            Sebelum kita dapat menggunakan software data base, kita harus tahu terlebih dahulu teori tentang data base. Data base atau basis data merupakan perpaduan pemikiran dan pengalaman para pakar untuk membangun database. Prinsip data base adalah bahwa data tidak boleh ada yang sama persis lebih dari sekali, karena akan mengakibatkan data rangkap yang merupakan pemborosan, di samping menjadi sulit ditentukan data mana yang benar. Data mestinya dikaitkan dengan data yang lain sehingga tidak terpisah.
            Database merupakan sekumpulan informasi atau data yang saling berhubungan yang mempunyai tujuan tertentu. Data dalam database disimpan dalam Tabel yang merupakan sekumpulan data sejenis, misalnya data nilai ujian, data konsumen IM3 dll.
            Tabel terdiri dari field dan record. Field adalah data terkecil dari tabel yang menempati kolom, sedangkan record adalah sekumpulan field yang saling berkoneksitas yang menempati kolom.
            Terdapat enam objek yang mendukung database dalam mengoperasikan data pada tabel yaitu :
  1. Query : merupakan objek yang digunakan untuk menampilkan, mengedit dan menganalisis data
  2. Form : merupakan objek untuk membuat control untuk proses pemasukan, pemeriksaan, dan pembaruan (Update) data.
  3. Report : merupakan objek untuk menampilkan data yang telah dibentuk sesuai dengan ketentuan
  4. Pages : merupakan objek untuk menampilkan data dan bekerja dengan data yang diambil dari internet
  5. Macro : merupakan objek yang terdiri dari rangkaian beberapa perintah yang dapat disimpan dan dioperasikan ulang, misalnya membuka form, mencetak report, dll
  6. Module : merupakan program-program yang ditulis dengan Acces Basic yang telah ada di dalam MS. Acces.


Terbaru 2020 - Historiografi Romawi

Resep Masakan Terbaru


Periode historiografi Romawi tidaklah jauh berbeda dengan periode Yunani. Para sejarawan memiliki orientasi terhadap kesusastraan. Lebih banyak yang menceritakan sejarahnya hanya sebatas pengalaman, perasaan, mitos, legenda, ketimbang peristiwa sejarah sesungguhnya yang lebih besar. Mungkin karena pada dua zaman ini para sejarawan adalah sebagai pegawai pemerintahan, guru, pedagang,dsb. Oleh karena itu, mereka menceritakan sejarah (historiografi lisan) hanya sebatas ruang lingkup retoris.
Ada kebisaaan para penulis sejarah zaman Romawi, bahwa publikasi sejarah harus didahului atau diawali dengan pembacaan naskah secara terbuka untuk umum. Demikian juga terjadi pada zaman Herodotus, dan masih tetap terjadi 8 abad kemudian pada sejarawan Ammianus Maecellinus.
Historiografi pada zaman Romawi adalah sejalan dengan kerajaan Romawi itu sendiri. Oleh karena itu, histoiografi Romawi lebih banyak menghasilkan karya-karya sejarah yang bersifat Rome-Oriented.
Berbeda dengan generasi pertama para sejarawan Yunani, yang tertarik pada hal yang bersifat cosmopolitan atau kekota-kotaan, sejarawan Romawi bisaanya hanya mengenal 1 kajian, yaitu Roma. Namun harus diingat, jika dibandingkan dengan Yunani yang secara politik terbagi menjadi wilayah-wilayah (polis) yang kecil, Romawi sejak perang Punisia telah berkembang meluas dan relatif mendunia.
Dalam ikhtisar dari sejarah Romawi yang berawal dari “absolute” yaitu dengan pendirian kota Roma, tetapi juga dengan perhatian yang besar untuk masa Romawi yang terbaru, bisa ditemukan bentuk-bentuk annalistic yang luas,  sedangkan  bentuk kronik relatif jarang ditemukan. Ikhtisar itu bisaanya berakhir pada jamannya sendiri (si penulis). Sejarah umum yang universal yang tidak hanya dalam kerangka sejarah Romawi hanya  bisa ditemukan pada karya Trogus. Untuk masa-masa yang terbaru Romawi, banyak ditemukan studi monografi, misalnya memoires (tulisan peringatan) dan historien (cerita yang lebih detail mengenai kejadian-kejadian masa kini) atau  kadang disebut dengan istilah annalen.

Terbaru 2020 - Historiografi Yunani

Resep Masakan Terbaru


Periode Yunani dalam aspek historiografi berawal dari tatanan pemerintahan yang ada pada saat itu. Para sejarawan Yunani pada umumnya berasal dari lingkungan orang berada atau yang secara material berasal dari kalangan masyarakat yang posisi ekonominya baik. Mereka nampaknya telah menjalani masa kehidupan sebagai pengarang, atau bahkan sebagai ilmuwan.
Akan tetapi kebanyakan dari mereka  adalah para politikus, pegawai negeri, militer, dokter (tabib) atau guru, dan  pada waktu yang sama atau sesudahnya juga masih tetap menjalankan pekerjaan penulisan sejarah.
Dalam ruang lingkup zaman Yunani, penulisan sejarah hanya sebatas pada cerita mitos dan legenda belaka. Unsur objektivitas dalam sejarah sebagai sebuah peristiwa yang benar-benar nyata terjadi belum mengalami internalisasi. Orientasi mythe lebih dominan ketimbang logika realitas.
Dalam mengkisahkan sejarah masa lampau yang jauh ke belakang, para sejarawan Yunani pada umumnya mendasarkan pada cerita rakyat  dan kisah-kisah yang disampaikan secara turun menurun atau atas karya para penulis terdahulu, yang sesungguhnya juga berasal dari  para penulis-penulis yang mendahuluinya. Namun demikian sejauh bisa diketahui, tradisi penulisan sejarah yang paling awal pada jaman Yunani kuno adalah apa yang disebut dengan istilah tradisi Homerus kemudian disusul dengan munculnya para Logograaf , dan yang terakhir zaman keemasan historiografi Yunani kuno.

Terbaru 2020 - Tradisi Penulisan Sejarah Masa Afrika Kuno

Resep Masakan Terbaru


a.    Tradisi Mengenai Asal Mula
Setiap komuniti keluarga, klien, desa, kota, atau negara besar atau kecil, mempunyai tradisi yang tetap mengenal asal mulanya. Komuniti itu mungkin terpecah-pecah, bermigrasi, dan mengasimilasi tradisi-tradisi yang baru, atau ditaklikkan oleh yang lainnya dan diserap oleh imigran-imigran yang baru. Pada setiap tingkat dari tranformasi, tradisi berada dalam pengkristalan dan kembali untuk mengakomodasi kondisi-kondisi yang berubah, dan suatu tradisi yang baru mengenal asal mula diformulasikan oleh komuniti yang baru. Tradisi-tradisi ini menjadi dasar pokok dari pandangan komuniti mengenai sejarah. Prosese yang sesungguhnya dari pembuatan tradisi dan akulturasi di dalam komuniti, dan dari penyampaian tradisi ke generasi-generasi yang berikutnya, mengembangkn suatu kesadaran sejarah yang menjadi tersebar luas di Afrika.
Tradisi-tradisi asal mula ini tidaklah mengusahakan suatu penjelasan secara sejarah di dalam pandangan modern Eropa mengenai teks-teks dan kronologi yang dapat dibuktikan. Mereka mengembangkan pengertian dan penghormatan terhadap pranata-pranata dan praktek-praktek dari komuniti. Mereka memberikan penjelasan mengenai dunia sebagaimana dilihat oleh komuniti asal mula dari tanah dan laut, manusia dan berbagai macam jenis makhluk yang lain, asal mula dari negara, dasar dari adanya hukum-hukum adat istiadat yang berbeda, hak komunitas atas tanah yang dimiliki, bagaimana dan mengapa dewa-dewa yang mereka puja berbeda dengan dewa-dewa yang dipuja oleh tetangganya, dan lain-lain.
Kronologi dan sebab-musabab yang tepat tidaklah begitu relevan. Sampai kepada batas-batas tertentu, sejarah dan mitos menjadi satu dan merupakan suatu bagian dari filsafat hidup. Dalam hal ini historiografi tradisional Afrika menyerupai historiografi Eropa sebelum revolusi ilmu pengetahuan memecah filsafat ke dalam berbagai bagian. Pembuatan dan penyampaian tradisi bukanlah pekerjaan ahli-ahli sejarah sebagaimana menurut pandngan modern, tetapi pekerjaan pendeta dan ahli-ahli agama, orang-orang tua, dan orang-orang bijaksana pada umumnya. Tradisi tidak hanya menjelaskan hubungan antara para nenek moyang dari komuniti-komuniti yang berbeda tetapi juga hubungan dengan komuniti yang dinyatakan dalam bentuk cerita, puisi suci, ritual agama, dan manifestasi-manifestasi cara hidup dalam masyarakat.
Pembuatan dan penyampaian tradisi adalah berlainan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hal itu tergantung pada luas, sifat alamiah, kepercayaan, dan sumber-sumber penghasilan dari suatu komuniti tertentu. Dalam masyarakat-masyarakat yang terdiri atas berbagai segmen-segmen dimana peranan-peranan seringkali tidak dibeda-bedakan, adalah suatu bagian dari fungsi-fungsi kepala klien untuk memegang peranan politik dan agama yang khusus. Tetapi dalam negara-negara yang terorganisasi, khususnya negara-negara dengan monarkhi yang terpusat, misal: Benin, Ashanti, atau Dahomey, dimana implikasi-implikasi politik dan legal dari tradisi merupakan hal-hal yang penting sehari-hari, pembuatan dan penyampaian tradisi menjadi suatu spesialisasi yang terkontrol dan penuh aturan.

b.    Penyampaian dari mulut ke mulut
Cara yang paling umum dalam menyampaikan tradisi adalah melalui cerita-cerita, fabel-fabel, dan peribahasa-peribahasa yang diceritakan oleh orang-orang yang lebih tua kepada mereka yang lebih muda sebagai bagian dari pendidikan umum. Di dalam kesempatan bercerita itu, sesudah makan malam di dalam kelompok-kelompok keluarga atau selama pesta-pesta bulan purnama ketika orang-orang tidak tidur hingga larut malam. Tradisi-tradisi menceritakan asal mula adanya hubungan dari seluruh komuniti atau dari keluarga klien tertentu. Kejadian-kejadian yang lebih akhir, yang telah muncul di dalam sejarah dapat diingat, khususnya hal-hal yang terjadi dua atau tiga generasi yang terdahulu juga diceritakan.
Tradisi-tradisi disampaikan secara lebih formal bila ada pranata-pranata pendidikan yang terorganisasi, umpamanya yang berhubungan dengan ritual masa dewasa, inisiasi ke dalam tingkat-tingkat umur dan kelompok-kelompok rahasia, atau selama latihan atau pendidikan untuk menjadi pendeta atau ahli agama. Rite-rite inisiasi untuk seorang calon raja yang terpilih menduduki tahta kerajaan adalah amat menarik perhatian. Sebagai penerus dan wakil para nenek moyang, raja menjadi penjaga dari tradisi-tradisi komuniti. Salah satu dari fungsi-fungsi terpenting dari rite-rite mendahului pentahbisannya sebagai raja adalah menginisiasinya ke dalam rahasia-rahasia para nenek moyang dan kepercayaan tradisional rakyatnya. Raja yang baru seringkali mengumumkan gelarnya sendiri, hali ini dimaksud untuk mrnandai harapan-harapan dari masa pemerintahannya. Proses penyampaian dari mulut ke mulut tersebut meliputi:
1)   Genealogi-genealogi
Dalam genealogi dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yakni: nenek moyang pertama, keturunan yang terakhir, dan rentetan orang-orang antara 1 dan 2. Struktur genealogi itu divergen dari nenek moyang pertama ke keturunan kemudian.
2)   Kejadian-kejadian simbolik dari masa lampau yang didramatisasikan ke hadapan umum
3)   Gelar-gelar
4)   Nyanyian-nyanyian untuk pemujaan
Proses penyampaian tradisi tidak terlepas dari pembentukan tradisi. Tradisi dibuat oleh mereka yang menyampaikan tradisi, misalnya orang-orang yang lebih tua di desa dan di klien. Orang-orang tersebut kadang ditunjuk dari anggota-anggota suatu keluarga yang dianggap mampu melakukan. Cara penyampaian tradisi:
1)   Cara secara umum melalui cerita, fable, dan peribahasa yang diceritakan secara turun-temurun.
2)   Dalam acara yang formal seperti ritual masa dewasa, latihan menjadi pendeta atau ritual menjadi calon raja.

c.    Unsur historiografi tradisional Afrika adalah:
1)   Kepercayaan yang asasi akan adanya kelanjutan hidup. Misalnya: mitos Horus yaitu raja-raja yang sudah mati, tetap terus mempengaruhi perbuatan dari luapan sungai Nil.
2)   Penghormatan pada nenek moyang. Yaitu setiap komuniti didirikan oleh seorang nenek moyang atau sekelompok nenek moyang. Nenek moyang telah menetapkan dasar dari hak dan kewajiban hidup yang berlaku untuk segala zaman.
d.      Ciri-ciri tradisi mengenai asal mula, yaitu:
1)   Tidak mengusahakan suatu pejelasan secara sejarah dalam pandangan masyarakat modern.
2)   Mengembangkan perhatian dan penghormatan terhadap pranata-pranata dan praktek dari komuniti.
3)   Memberikan penjelasan mengenai dunia dan bersifat filsafat, kesusasteraan dan pendidikan.
4)   Kronologi dan penyebab terjadinya sesuatu tidak relevan.
5)   Sejarah dan mitos menjadi satu dan menjadi bagian dari filsafat hidup.

6)   Pembuatan dan penyampaian tradisi melalui ahli-ahli agama, orang-orang tua, dan orang-orang bijaksana.

Terbaru 2020 - Seni Tari Untuk Anak Usia Dini

Resep Masakan Terbaru

Seni Tari
a.  Pengertian Tari
Tari adalah gerak tubuh manusia. Ciri khas gerak tari adalah gerak yang sudah diolah dari aspek tenaga, ruang dan waktu. Seni tari merupakan ungkapan ekspresi manusia yang dinyatakan melalui gerak-gerak tubuh yang indah serta mampu memberikan aktivitas fisik dan rasa keindahan yang tertuang melalui gerak.
Ada beberapa konsep tari menurut para ahli sebagai berikut :
1)   Seorang kritikus dari Amerika Serikat, yaitu John Martin dalam bukunya yang berjudul “The Modern Dance”, mengemukakan bahwa gerak adalah pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan manusia. Landasan elemen dasar dari tari adalah gerak, gerak yang diterapkan dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan bentuk yang diungkapkan manusia agar dapat dinikmati dengan rasa.
2)   Susane K. Langer dalam bukunya yang berjudul “Problem of Art”, mengemukakan bahwa gerak-gerak ekspresif ialah gerak-gerak yang indah, yang dapat menggetarkan perasaan manusia. Sedang gerak indah adalah gerak yang destilir dan mengandung ritme tertentu. Kata indah identik dengan bagus, yang dapat memberikan kepuasan batin manusia.
3)   Konsep tari menurut Curt Sachs, bahwa tari adalah gerak yang ritmis.
4)   Kemudian konsep tari menurut Corrie Hartong dari Belanda dalam bukunya yang berjudul “Duskeenst”, mengemukakan bahwa tari adalah gerakan-gerakan yang diberi bentuk dan ritme dari badan di dalam ruang.
Seni tari merupakan salah satu bagian dari pendidikan seni yang terdapat dalam program pembelajaran. Pendidikan seni dengan pendekatan kompetensi sebagai salah suatu alternatif solusi dan antisipasi pada persaingan global yang kompetitif. Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menitikberatkan pada penguasaan kemampuan atau kompetensi untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu (ability to do something) (Masunah, 2003:5).
Tentu untuk bisa mengerjakan sesuatu yang dimaksud, diperlukan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan untuk mengerjakan sesuatu tersebut. Misalnya untuk bisa menari, diperlukan penguasaan kompetensi yang terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap terhadap tari, atau untuk bisa melukis, diperlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk melukis. Pendeknya, untuk dapat melakukan pekerjaanpekerjaan seni rupa, musik, tari, teater dan sastra, diperlukan kompetensi yang mencakup aspek-aspek kognitif, psikomotor dan afektif.
Pendidikan seni sebagai mata pelajaran di sekolah didasarkan pada: Pertama, pendidikan seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual berarti seni bertujuan mengembangkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai cara seperti melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan paduannya. Multidimensional berarti seni mengembangkan kompetensi kemampuan dasar siswa yang mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi dan produktivitas dalam menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika, etika dan estetika, dan multikultural berarti seni bertujuan menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang majemuk (Depdiknas, 2001: 7).
Kompetensi yang diharapkan dari pendidikan seni anak usia dini adalah:
1)   Mampu memadukan unsur etika, logika dan estetika, meliputi: pengetahuan, pemahaman, persepsi, analisis, evaluasi, apresiasi, dan berproduksi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran;
2)   Memiliki kepekaan inderawi, perasaan estetis dan artistik melalui pengalaman bereksplorasi, berekspresi dan berkreasi secara lintas bidang dalam mendukung kecerdasan emosional, intelektual, moral, spiritual dan adversitas sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak;
3)   Mampu berkreasi dalam bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran dalam mengembangkan kemampuan perseptual, pemahaman, apresiasi, kreativitas, dalam berproduksi;
4)   Memiliki keterampilan dasar dan mampu berkreasi berdasarkan inspirasi yang bersumber pada alam dan lingkungan sekitar anak dalam mengolah medium seni;
5)   Mampu menghargai karya sendiri dan karya orang lain serta keragaman seni budaya setempat dan nusantara;
6)   Mampu mempergelarkan, menyajikan karya seni dan atau merancang, memamerkannya di kelas dan atau di lingkungan sekolah (Depdiknas, 2001: 8).
Tujuan pendidikan seni berbasis kompetensi adalah salah satu alternatif untuk: (1) mendekatkan pendidikan seni dan dunia kerja seni; (2) menjamin adanya common basis pendidikan seni; (3) memfokuskan pada hasil dan proses sekaligus; (4) mengenalkan pembelajaran yang luwes; (5) mengakui pembelajaran sebelumnya; dan (6) menjamin adanya multiple entry and exit (Slamet, 2001: 4).
Dengan demikian pendidikan seni di sekolah yang mencakup seni rupa, seni musik, tari dan drama, dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan dalam membentuk jiwa dan kepribadian (berakhlak karimah). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Plato (dalam Rohidi, 2000:5), bahwa pendidikan seni dapat dijadikan dasar pendidikan karena untuk membentuk suatu kepribadian yang baik dilakukan melalui pendidikan seni.
Selain bernyanyi dan bereksplorasi dengan alat musik, kegiatan lain dalam musik adalah gerak dan lagu serta menari. Menari sebagai salah satu bentuk kegiatan dari seni musik yang beragam jenisnya, sehingga tidak semua kegiatan tari appropriate (berkesesuaian) bagi anak. Menari lebih spesifik dikatakan oleh Stinson sebagai gerakan yang beraturan, signifikan dan dipengaruhi oleh penjiwaan.Tari yang kreatif adalah gerakan yang ditampilkan secara menarik dengan menyesuaikan alunan lagu atau musik. Terlepas dari itu, gerakan tari untuk anak sebaiknya yang mudah dan tidak terlalu bervariasi, menyenangkan bagi anak, dan dalam kondisi tertentu gerakan tari anak bersifat alami.
Gerakan tari pada anak usia dini umumnya bersifat pengulangan dari 5-6 gerakan, dengan ditambah variasi formasi yang sederhana. Hal penting yang perlu diperhatikan oleh guru ataupun orangtua adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis anak saat ingin menari. Memaksakan atau menekan anak untuk menunjukkan suatu gerakan tari, terlebih harus sempurna, hanya akan membuat kondisi menjadi semakin buruk dan tidak mengembangkan kreativitas mereka.
b. Karakteristik Tari
1)    Karakteristik gerak anak TK
Gerak merupakan sarana ekspresi dan mengalihkan ketakutan, kesedihan, kemarahan, kenikmatan, dan sebagainya. Gerak juga merupakan ekspresi pembebasan dari belenggu ketidakberdayaan, simbolis khususnya pada anak-anak mereka mengekspresikan dirinya secara langsung dan efektif melalui gerakan. Gerak yang erat hubungannya dengan musik merupakan isyarat yang ekspresif dan membebaskan diri dari ketegangan melalui gerakan-gerakan ritmis sehingga dalam penanganan anak yang berperilaku agresif, media gerak ritmis dapat menyalurkan emosi-emosi negatif dengan cara yang lebih dapat diterima oleh lingkungannya (Mutiah, 2010:168-169) .
Karakteristik gerak pada anak TK umumnya mereka dapat melakukan dengan berbagai kegiatan-kegiatan pergerakan menirukan. Apabila seorang guru dapat menunjukkan kepada anak didik suatu action yang dapat diamati (observable), maka anak akan mulai membuat tiruan actiontersebut sampai pada tingkat otot-ototnya dan dituntut oleh dorongan kata hati untuk menirukannya.
Kemampuan anak-anak dalam masa pertumbuhan selalu bergerak. Sejalan dengan perkembangan fisik serta mental anak, kegiatan gerak yang dilakukan mereka sangat bervariasi dan atraktif, biasanya gerak yang mereka lakukan berkenaan dengan dunia permainan. Dalam bermain anak-anak melakukan gerak kreatif dengan mengungkapkan berbagai ekspresi melalui simbol gerak. Pengekspresian simbol gerak berhubungan dengan penggunaan tubuh, ikiran, dan jiwa (rasa) yang tergabung dalam ekspresi nonfungsional dan komunikasi diri.
Bahwa dalam perkembangan umumnya anak TK dapat melakukan kegiatan-kegiatan bergerak sebagai berikut :
a)    Menirukan, seperti yang telah penulis ungkapkan sebelumnya dalam upaya pengembangan kreativitas tari bahwa dalam bermain anak senang menirukan sesuatu yang dilihat. Anak dapat menirukan gerakan-gerakan yang dilihat baik dari televisi ataupun gerakan-gerakan yang secara langsung dilakukan oleh orang lain, berdasarkan tema maupun gerakan-gerakan binatang yang diamati.
b)   Manipulasi, dalam kegiatan ini anak-anak secara spontan menampilkan berbagai gerak-gerak dari obyek yang diamatinya. Namun dalam pengamatan dari obyek tersebut anak akan menampilkan sebuah gerakan yang hanya disukainya.
Menurut Kamtini dan Tanjung (2005:10) bahwa secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa karakteristik gerak fisik anak TK adalah :
1)        bersifat sederhana,
2)        bersifat maknawi dan bertema, artinya tiap gerak mengandung tema tertentu,
3)        gerak anak menirukan gerak keseharian orang tua dan juga orang-orang yang berada di sekitarnya,
4)        anak juga menirukan gerak-gerak binatang.
Seorang guru TK dalam menata sebuah tari-tarian bagi anak TK harus memperhatikan dua hal yaitu, harus memperhatikan bagian-bagian tubuh yang dapat dilatih dari karakteristik atau ciri-ciri gerak anak.
2) Karakteristik Tari Anak TK
Menurut Desfina (2005:25) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dapat memberikan tari yang sesuai dengan karakteristik anak TK yaitu ada beberapa butir yang harus diketahui antara lain :
a)    Tema
Bahwa pada umumnya anak-anak selalu menyenangi apa yang pernah dia lihat. Dari apa yang dilihatnya secara tidak disadari atau disadari dengan spontan. Anak akan menirukan gerakan yang sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya.
Dari gerak-gerak yang pernah dilihat dan diamati oleh anak maka dapat dijadikan suatu tema. Tema-tema yang pada umumnya disenangi oleh anak-anak TK diantaranya adalah tingkah laku binatang seperti : kucing, anjing, burung, kupu-kupu, bebek dan lain-lain.
b)   Bentuk Gerak
Bentuk gerak yang sesuai dengan karakteristik tari anak-anak, pada umumnya gerak-gerak yang dilakukannya tidaklah terlalu sulit dan sangat sederhana sekali. Mengingat pada dasarnya imajinasi anak TK tinggi dan mempunyai daya kreativitas yang tinggi pula. Dan bentuk-bentuk gerak yang biasa dilakukan adalah bentuk gerak-gerak yang lincah, cepat dan seakan menggambarkan kegembiraannya.
c)    Bentuk Iringan
Dilihat dari karakteristik anak yang senang bergerak dengan gembira, anak TK biasanya menyenangi musik iringan yang menggambarkan kesenangan dan kegembiraan. Terutama lagu-lagu anak yang mudah diingat, misalnya: lagu kelinciku, kebunku, kupu-kupuku dan lain-lain.
d)   Jenis Tari
Apabila suatu karya cipta gerak tari sudah tersusun dan menjadi satu kesatuan tari anak, maka dibentuklah menjadi satu bentuk tari dan sebuah jenis tari yang sesuai dengan karakteristik dan sifat anak TK yang memiliki sifat kegembiraan atau kesenangan, geraknya yang lincah dan sederhana, dan iringan musiknya pun mudah dipahami oleh anak.
c. Tujuan Tari
Keterampilan gerak tari bukanlah tujuan utama namun pengembangan berbagai aspek kreativitas pada diri siswa merupakan orientasi yang dilaksanakan dalam proses pembelajarannya. Tujuan utama dari tari adalah membantu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan anak melalui tari untuk menemukan hubungan antara tubuhnya dengan seluruh eksistensinya.
Pendidikan seni tari memiliki peranan untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak. Seni tari pada lingkungan sekolah membantu anak untuk berekspresi secara bebas. Dengan kata lain menurut Rohendi (2000:33) “seni sebagai media dalam pendidikan untuk meningkatkan kreativitas anak”. Melalui pendidikan seni tari, potensi yang dimiliki siswa sejak lahir untuk bergerak secara bebas dapat dikembangkan secara optimal.
Tujuan dari pembelajaran dengan menggunakan tarian yang dilakukan secara bertahap adalah :
1)        Anak dapat memahami instruksi yang dapat diberikan.
2)        Anak dapat meniru gerakan sesuai dengan contoh yang diberikan.
3)        Anak dapat membentuk gerakan sesuai dengan irama musik.
4)        Anak dapat mengembangkan imajinasinya dengan variasi gerakannya.
5)        Anak dapat merangsang pancainderanya melalui sentuhan, pendengaran, penciuman, penglihatan, dan perasaannya.
6)        Anak dapat mengatur dirinya sendiri sesuai dengan alur cerita.
7)        Berinteraksi dan berpartisipasi di dalam kelompok
8)        Anak mampu mengordinasikan tubuh, ucapan, dan musik.
9)        Anak membuat kreasi gerakan sendiri yang sesuai dengan irama musik dan alur cerita.
10)    Anak tidak canggung untuk tampil menari dan menyanyi dihadapan publik.
Anak memahami nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita  (Mutiah, 2010:176-177).

Rabu, 17 Juli 2019

Terbaru 2020 - Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Tema : Budi Pekerti Kelas 1 Semester 1

Resep Masakan Terbaru

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Tema : Budi Pekerti
Kelas 1 Semester 1
Alokasi waktu 2 minggu
Standar Kompetensi :
1. IPS              :  Memahami identitas diri dan keluarga serta sikap saling 
                           menghormati dalam kemajemukan keluarga.          
2. IPA              :  Mengenal cara memelihara lingkungan agar tetap sehat
3. PKN            :  Menerapkan hidup rukun dalam perbedaan.
4. Matematika :  Menggunakan pengukuran waktu dan panjang
5. Bahasa Indonesia :
·   Mendengarkan : Memahami bunyi bahasa, perintah dan dongeng yang     
                              dilisankan.
·   Berbicara :  Mengungkapkan  fikiran, perasaan, dan informasi secara lisan  dengan perkenalan dan tegur sapa, pengenalan, benda
                      dan  fungsi anggota tubuh, dan deklamasi                 
·   Membaca : Memahami teks pendek dengan membaca nyaring.
·   Menulis    : Menulis permulaan dengan menjiplak menebalkan, mencontoh,   melengkapi, dan menyalin.                     
6.      Seni Budaya dan Keterampilan  : Mengapresiasi karya seni tari.
7.  Basa Sunda :
·   Mampu mengungkapkan fikiran, perasaan dan keinginan secara lisan dalam percakapan  ( guneman ), permintaan izin, perkenalan,  (ngawanohkeun ) diri, penyebutan berbagai jenis   gambar dan gambar peristiwa. 
·   Mampu  membaca, memahami dan menanggapi berbagai bentuk dan jenis wacana tulis  (teka) berupa kata-kata lepas, kalimat lepas,  serta wacana pendek.

Kompetensi Dasar  :
            1. IPS  :
·         Menunjukkan sikap hidup rukun dalam  kemajemukan keluarga.

         2. IPA :
·         Membedakan lingkungan sehat dan tidak sehat.

3.  PKN :
·         Menerapkan hidup rukun di rumah dan di sekolah.

4.  Matematika :
·         Menentukan lama suatu  kejadian berlangsung.
·         Mengenal panjang suatu  benda melalui kalimat sehari-hari. ( pendek,              
            panjang ) dan  membandingkannya.

5.      Bahasa Indonesia :
·         Melaksanakn sesuatu sesuai dengan perintah dan petunjuk guru.
·         Menyebutkan tokoh-tokoh  dalam cerita.
·         Membaca nyaring suku kata dan kata  dengan lafal  yang  tepat.
·         Menjiplak berbagai bentuk  gambar, lingkaran, dan bentuk huruf.
·         Menebalkan berbagai bentuk gambar, lingkaran dan bentuk huruf.
·         Mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku atau papan tulis  dengan benar.
·         Melengkapi kalimat yang belum selesai berdasarkan gambar

6.      Seni Budaya dan Keterampilan :
·         Menunjukkan sikap apresiatif terhadap gerak  tari menurut tingkat tinggi

7.      Basa Sunda :
·         Menyampaikan  permintaan ijin dengan bahasa lisan.
·         Membaca kalimat lepas dua kata.

Indikator  :
1.      IPS :
·         Memberi contoh kemajemukan keluarga ( jenis kelamin, suku bangsa, agama, kebiasaan, dll )
·         Menjelaskan manfaat hidup rukun dalam keluarga

2.      IPA :
·         Mengemukakan ciri-ciri lingkungan yang sehat dan ciri-ciri lingkungan yang tidak sehat.
·         Menjelaskan bahwa air kotor tumpukkan sampah, asap kendaraan merupakan kondisi lingkungan kurang baik bagi kesehatan
·         Membiasakan membuang sampah pada tempatnya.

3.      PKN :
§  Menunjukkan sikap saling menghargai perbedaan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.
§  Menunjukkan sikap tidak membeda-bedakan perlakuan di rumah dan di sekolah.

4.      Matematika :
·         Memberi contoh kegiatan sehari-hari yang dilakukan sebentar.
·         Memberi contoh kegiatan sehari-hari yang dilakukan lama.
·         Menyebutkan panjang suatu benda melalui kalimat sehari-hari ( pendek , panjang )
·         Memberi contoh benda yang panjang dan benda yang pendek.
·         Membandingkan panjang suatu benda ( lebih panjang, lebih  pendek)
·         Mengenal jarak dekat dan jauh.

5.      Bahasa Indonesia.
·         Melakukan sesuatu sesuai perintah atau permintaan guru.
·         Menceritakan kembali isi dongeng dengan kalimatnya sendiri
·         Menjawab pertanyaan dan menjelaskan isi dongeng.
·         Memperagakan tokoh dongeng di depan kelas.
·         Membaca nyaring ( didengar siswa )
·         Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat.
·         Mengenali huruf – huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata–kata dan kalimat sederhana.
·         Menjiplak berbagai bentuk huruf dan gambar.
·         Menebalkan berbagai bentuk gambar, dan bentuk huruf.
·         Menyalin / mencontoh huruf kata , kalimat, dari papan tulis atau buku dengan benar dengan menggunakan huruf lepas.
·         Menyalin / mencontoh kalimat dari buku atau papan tulis yang ditulis guru dan menyalinnya pada buku sendiri dengan menggunakan huruf tegak bersambung.
·         Melengkapi kalimat yang belum selesai sesuai dengan gambar

6.      Seni Budaya dan Keterampilan. :
·         Mengelompokkan gerak tari sesuai level.
·         Mengidentifikasi gerak keseimbangan pola lantai.
·         Mengidentifikasi bentuk iringan tari dengan menggunakan bunyi yang bersumber dari tubuh. ( internal ).

7.   Basa Sunda   :
·         Menyampaikan permintaan izin dengan bahasa lisan yang santun.
·         Membedakan bahasa yang disampaikan kepada teman, orang lain, dan orang yang lebih tua.
·         Membaca kalimat yang terdiri dari dua kata dengan menggunakan lafal dan intonasi yang benar.
·         Menjelaskan arti dari kata 
·         Melengkapi kalimat dengan kata yang tepat.

I. Tujuan Pembelajaran  :
·         Siswa dapat menjelaskan kemajemukan keluarga ( jenis kelamin, agama, suku bangsa, kebiasaan )
·         Siswa dapat menjelaskan manfaat hidup rukun dalam keluarga
·         Siswa dapat mengemukakan ciri-ciri lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat
·         Siswa dapat menjelaskan hal hal yang menyebabkan lingkungan menjadi  kotor
·         Siswa dapat membiasakan membuang sampah pada tempatnya
·         Siswa dapat menunjukkan sikap saling menghargai perbedaan dan tidak membeda-bedakan perlakuan di rumah maupun di sekolah.
·         Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh kegiatan yang dilakukan lama dan sebentar.
·         Siswa dapat menyebutkan, membandingkan,  panjang suatu benda melalui kalimat sehari-hari.
·         Siswa dapat mengenal jarak dekat dan jauh.
·         Siswa dapat melakukan sesuatu sesuai dengan perintah atau permintaan.
·         Siswa dapat menceritakan kembali isi dongeng dengan kalimatnya sendiri.
·         Siswa dapat menjawab pertanyaan tentang disi dongeng dan memeragakan tokoh dongeng.
·         Siswa dapat membaca nyaring.
·         Siswa dapat menjiplak dan menebalkan berbagai bentuk huruf, gambar.
·         Siswa dapat menuliskan kata dan kalimat yang didiktekan guru.
·         Siswa dapat menyalin kalimat dari papan tulis / buku paket dalam buku tulis sendiri.
·         Siswa dapat melengkapi kalimat yang belum sempurna yang sesuai dengan gambar.
·         Siswa dapat mengelompokkan gerakan tari sesuai dengan level.
·         Siswa dapat mengidentifikasi gerak keseimbangan pola lantai.
·         Siswa dapat mengidentifikasi bentuk iringan tari dengan menggunakan bunyi bersumber dari tubuh ( internal).
·         Siswa dapat menyampaikan permintaan ijin dengan bahasa lisan yang santun.
·         Siswa dapat membaca kalimat yang terdiri dari  dua kata .

II.      Materi Ajar  ( Materi Pokok ) :
1.      Hidup rukun dalam kemajemukan keluarga.
2.      Perawatan dan pemeliharaan lingkungan di sekitar rumah dan sekolah.
3.      Hidup rukun dalam perbedaan.
4.      Satuan pengukuran.
5.      Teks yang terdiri atas berbagai kalimat perintah ( untuk dibaca oleh guru saja)
6.      Mendengarkan dongeng dan menceritakan kembali.
7.      Suku kata, kata dan kalimat sederhana.
8.      Gambar sederhana.
9.      Unsur gerak tari bersumber dari gerak hewan , tumbuhan,dan bunyi iringan
10.  Kalimat permintaan ijin.
11. Kalimat sederhana.

III.    Metoda Pembelajaran :
·         Ceramah
·         Diskusi.
·         Tanya jawab.
·         Demontrasi.
·         Pemberian tugas.

IV. Langkah-langkah pembelajaran :
A. Kegiatan awal :
·         Mengisi daftar kelas , berdoa, mempersiapkan materi ajar, model, alat peraga.
·         Memperingatkan cara duduk yang baik ketika menulis, membaca.
·         Mengumpulkan tugas/ PR
·         Mengingatkan pada pelajaran yang lalu.

B. Kegiatan inti   :
      Minggu I
      Pertemuan pertama  :  3 x 35 menit  ( IPA, PKN, Matematika)
·         Melalui pengamatan lingkungan sekitar siswa menjelaskan lingkungan sekolah termasuk lingkungan sehat  atau tidak sehat.
·         Mengemukakan ciri-ciri lingkungan sehat.
·         Mengemukakan ciri–ciri lingkungan tidak sehat.
·         Mendiskusikan  manfaat dan akibat dari lingkungan yang sehat dan tidak sehat.
·         Melakukan tanya jawab tentang hasil diskusi.
·         Setelah mendengarkan penjelasan guru dan mengingat kembali pengalaman, siswa menjelaskan kerukunan dapat terjaga dengan sikap saling menghargai perbedaan masing-masing.
·         Menyebutkan beberapa contoh kegiatan  yang menggambarkan kerukunan  dalam keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
·         Menyebutkan beberapa contoh  peristiwa yang diakibatkan dari tidak menjaga kerukunan dalam keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.
·         Melalui pengamatan dan penjelasan guru,  siswa membedakan  kegiatan yang termasuk kategori lama dan sebentar.
·         Mengelompokkan kegiatan yang termasuk lama.
·         Menyusun kegiatan yang  termasuk lama.

      Pertemuan ke dua   3 x 35 menit   ( Bahasa Indonesia, IPS, Matematika )
·         Dengan menyimak siswa dapat melakukan sesuatu sesuai perintah atau permintaan  guru.
·         Melalui permainan bisik-bisik, siswa dapat melakukan pesan /  permintaan guru.
·         Guru menyampaikan pesan dengan  kalimat perintah yang dapat dilakukan siswa.
·         Melalui pengamatan pada foto keluarga besar dan penjelasan guru, siswa menyebutkan kemajemukan dalam keluarga.
·         Menjelaskan kemajemukan keluarga sebagai kekayaan budaya yang harus dihargai.
·         Kemajemukan keluarga dalam kebiasan, jenis kelamin, agama, suku bangsa, harus disikapi dengan baik agar tercipta kerukunan hidup.
·         Mengisi LKS yang mencari data tentang kemajemukan keuarga.
·         Melalui pengamatan siswa menyebutkan kegiatan yang termasuk kategori sebentar.
·         Mengelompokkan kegiatan yang termasuk sebentar.
·         Menyusun kegiatan yang termasuk sebentar

Pertemuan ke tiga  2 x 35 menit ( Bahasa Indonesia, Matematika )
·         Mendengarkan dongeng dengan sungguh-sungguh.
·         Menjelaskan isi dongeng dengan bahasa sendiri  dan menjawab pertanyaan seputar isi dongeng.
·         Melalui pengamatan dan percobaan siwa memperkirakan panjangnya suatu benda melalui kalimat sehari hari ( panjang dan pendek )
·         Melakukan perkiraan panjang benda .
·         Mengelompokkan benda di kelas  yang termasuk kategori panjang.
·         Mengelompokkan benda di kelas  yang termasuk kategori pendek

Pertemuan ke empat  2 x 35 menit.  ( Bahasa Indonesia, Matematika )
·         Siswa secara berkelompok memperagakan tokoh dalam dongeng, sesuai jalan ceritanya di depan kelas.
·         Memberikan pendapat tentang penampilan teman-temannya.
·         Melalui pengamatan dan percobaan siwa memperkirakan panjang suatu benda melalui kalimat sehari hari ( panjang dan pendek )
·         Melakukan perkiraan panjang benda .
·         Mengelompokkan benda di kelas  yang termasuk kategori panjang.
·         Mengelompokkan benda di kelas  yang termasuk kategori pendek
·         Membandingkan beberapa benda milik siswa  yang dapat diperkirakan panjangnya.
·         Menggunakan bahasa sederhana untuk membandingkan, lebih panjang atau lebih pendek.

      Pertemuan ke lima  3 x 35 menit ( Basa Sunda, Matematika, Bahasa Indonesia)
·         Melalui peragaan siswa menirukan kalimat permohonan ijin ke kamar kecil, meminjam alat tulis, tidak masuk sekolah dll.
·         Membedakan bahasa yang disampaikan bila permohonan ijin kepada orang tua atau orang yang lebih tua usianya.
·         Mengucapkan kalimat permohonan ijin dengan cara dan bahasa yang santun.
·         Membandingkan beberapa benda yang berada di luar kelas  yang dapat diperkirakan panjangnya.
·         Menggunakan bahasa sederhana untuk membandingkan, lebih panjang atau lebih pendek.
·         Membuat kesimpulan tentang sifat dari tokoh dongeng yang baik untuk ditiru.
·         Membaca  nyaring suku kata dan kata yang masih berhubungan dengan dongeng yang dibacakan guru.

      Pertemuan ke enam  3x 35 menit  (Seni Budaya dan Keterampilan, Bahasa    
      Indonesia)
·         Melalui latihan dan peragaan  siswa dapat melakukan gerakan - gerakan tari dalam posisi  duduk yang meniru gerakan tumbuhan.
·         Melalui latihan dan peragaan siswa dapat melakukan gerakan – gerakan tari dalam posisi jongkok yang meniru gerakan binatang.
·         Melalui latihan dan peragaan siswa melakukan gerakan – gerakan tari dalam posisi berdiri  yang meniru gerakan binatang.
·         Melalui latihan dan peragaan siswa melakukan gerakan – gerakan tari dalam gabungan  posisi duduk, jongkok dan berdiri   yang meniru gerakan tumbuhan dan  binatang secara berkelompok.
·         Membaca nyaring kata dan kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat.
·         Membaca kalimat yang ditulis di papan tulis. Dengan suara nyaring.

     Minggu  ke 2
      Pertemuan pertama  :  3 x 35 menit  ( IPA, PKN, Matematika)
·         Melalui pengamatan lingkungan sekitar siswa mendiskusikan secara sederhana  hal-hal yang dapat merusak kesehatan lingkungan yang dapat berpengaruh pada kesehatan pribadi.
·         Menyebutkan bahwa air kotor, asap pabrik,asap kendaraan, debu jalan, tumpukan sampah merupakan kondisi lingkungan yang tidak baik bagi kesehatan.
·         Melalui pengamatan, penjelasan dan pengalaman, siswa menjelaskan kedudukan manusia sama dalam keluarga maupun di sekolah dan di masyarakat.
·         Menyebutkan hak dan kewajiban kita sebagai anggota keluarga, dan anggota masyarakat.
·         Menjelaskan sikap membeda-bedakan berarti berlaku tidak adil, tidak sesuai dengan pengamalan pancasila.
·         Menyebukan sikap yang baik dalam menjungjung keadilan.
·         Membandingkan beberapa benda bawaan dari rumah yang dapat diperkirakan panjangnya.
·         Menggunakan bahasa sederhana untuk membandingkan, lebih panjang atau lebih pendek.


      Pertemuan ke dua   3 x 35 menit   ( Bahasa Indonesia, IPS, Matematika )
·         Menjiplak bentuk huruf dan gambar yang ad dalam buku
·         Menebalkan bentuk huruf dan gambar.
·         Melalui penjelasan guru siswa termotivasi untuk menyampaikan manfat-manfaat yang dirasakan dalam menjaga kerukunan hidup dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
·         Menyebutkan contoh-contoh kegiatan yang dapat menjaga kerukunan di sekolah.
·         Setelah melakukan percobaan siswa mengisi lembar kerja untuk mencatat fakta panjang benda  yang ada di sekitar siswa.

Pertemuan ke tiga  2 x 35 menit ( Bahasa Indonesia, Matematika  )
·         Menuliskan kalimat yang didiktekan dengan tulisan lepas.
·         Menyalin kalimat dengan tulisan tegak bersambung.
·         Melalui pengamatan, percobaan, dan penjelasan guru , siswa membedakan keadaan jarak dengan menggunakan bahasa sehari- hari yaitu dekat dan jauh.
·         Menyebutkan contoh-contoh dari jarak jauh.
·         Menyebutkan contoh-contoh dari jarak dekat.

      Pertemuan ke empat  2 x 35 menit.  ( Bahasa Indonesia, Matematika )
·         Menyalin kalimat dari buku ke dalam buku tulis sendiri.
·         Menyalin dengan bentuk huruf sambung yang rapi dan dapat terbaca oleh orang lain.
·         Melalui percobaan dan pencarian fakta siswa menyusun kategori suatu jarak, termasuk jauh atau dekat jarak suatu tempat.

      Pertemuan ke lima  3 x 35 menit ( Basa Sunda, Matematika, Bahasa Indonesia)
·         Mengamati kalimat yang ditulis di papan tulis.
·         Membaca nyaring kalimat yang terdiri dari dua kata lepas.
·         Membaca dengan cara indifidual dan klasikal dengan pelafalan yang benar.
·         Melengkapi kalimat dengan kata yang sesuai untuk menjelaskan gambar.
·         Menceritakan pengalaman yang pernah dialami dalam menempuh perjalanan yang termasuk kategori jauh.
·         Menceritakan pengalaman yang pernah dialami dalam menempuh perjalanan yang termasuk kategori dekat.
·         Membandingkan jantara jarak tempat yang jauh dan dekat.
·         Mengamati gambar yang menceritakan suasana di kelas.
·         Menceritakan isi dari gambar tersebut.
·         Melengkapi kalimat dengan kata yang tepat sesuai dengan gambar.

      Pertemuan ke enam  3x 35 menit  (Seni Budaya dan Keterampilan, Bahasa    
      Indonesia)
·         Melalui peragaan dan latihan siswa melakukan gerakan-gerakan tari dengan mengikuti pola lantai 
·         Melakukan gerakan tari dengan pola lantai I, L, dan U.
·         Melakukan gerakan tari dengan pola lantai  kombinasi antara pola lantai I,L dan U
·         Melakukan gerakan tari dengan iringan petik jari dan tepuk tangan.
·         Mengamati gambar yang menceritakan suasana di pedesaan
·         Menceritakan isi dari gambar tersebut.
·         Melengkapi kalimat dengan kata yang tepat sesuai dengan gambar.


C.  Kegiatan akhir
·         Membuat kesimpulan dari tiap materi yang disampaikan.
·         Mengerjakan post tes
·         Pemberian PR / tugas



V.  Alat dan Sumber Belajar
  • Buku Sumber :
    1. Buku Pengetahuan sosial SD kelas 1, Penerbit Erlangga
    2. Buku Sains SD Kelas 1, Penerbit Erlangga
    3. Buku Pendidikan Kewarganegaraan kelas 1 SD , Penerbit Grafindo Media Pratama
    4. Buku Pelajaran Matematika SD Kelas 1, Penerbit Erlangga.
    5. Buku Bina Bahasa Indonesia dan Sastra SD Kelas 1, Penerbit Erlangga
    6. Buku Saya Ingin Terampil dan Kreatif SD kelas 1, Penerbit Grafindo.
    7. Buku Piwulang Basa SD Kelas 1, Penerbit Geugeur Sunten.

·         Alat Peraga:
1.      Gambar rumah yang sehat dan tidak sehat..
2.      Gambar keluarga dari majalah / foto keluarga.
3.      Kartu huruf, kartu kata, kalimat
4.      aneka benda untuk perbandingan panjang ( lidi, pensil, tali sepatu, pita, dll.).

VI. Penilaian
Teknik  Tes  :
·         Tes lisan.
1.      Keberanian menjawab/ menyampaikan pendapat dalam diskusi kecil.
2.      Ketepatan jawaban.
3.      Keseriusan dan konsentrasi dalam menyimak pertanyaan.
·         Tes tertulis
1.      pilihan ganda
2.      isian.
·         Tes perbuatan.

Bentuk Tes :
1.      Objektif tes
2.      Non Objektif tes

Instrument Tes :
·         LKS
·         Lembar observasi.