Senin, 24 Juni 2019

Terbaru 2020 - Proses Penyusunan Laporan Keuangan

Resep Masakan Terbaru


Sebagai suatu komoditi, laporan keuangan yang dihasilkan sendiri oleh manajemen, yang kegunaannya akan dikonsumsi oleh banyak pihak, harus disajikan dengan cara-cara dan prosedur-prosedur tertentu berdasarkan suatu pedoman yang berlaku. Jadi, penyajian laporan keuangan tidak bisa secara operasional tanpa mengikuti aturan tersebut. Seuatu penyelenggaraan sistem adanya catatan akuntansi harus mencakup keseluruhan aktifitas yang dibutuhkan untuk memberikan kepada manajemen berbagai macam informasi untuk perencanaan, pengendalian dan pelaporan keadaan serta operasi perusahaan.
Laporan keuangan pada dasarnya adalah suatu rangkuman dari keseluruhan aktifitas yang dapat menaikkan ataupun menurunkan berbagai aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan selama suatu peri ode tertentu. Proses penyajian terdiri dari dua tahap. Tahap pertama disebut tahap pencatatan (recording phase) sedangkan lahar kedua adalah tahap pengikhtisaran (summmarizing phase).
Masing-masing tahap saling berkaitan dan tidak bisa saling mendahului karena tidak mungkin laporan keuangan disusun tanpa adanya suatu aktifitas. Tahap-tahap ini yang dikenal dengan istilah proses akuntansi atau siklus akuntansi. Pada tahap pencatatan, ada tiga langkah yang dijalani, yaitu:
a. Analisis atau transaksi dan kejadian-kejadian terpilih lainnya tidak semua transaksi akan dicatat, namun harus dilakukan seleksi terhadap suatu kejadian, apakah akan diakui dalam laporan keuangan atau tidak. Setelah itu transaksi tcrpilih tersebut didokumentasikan, akan dijadikan dasar pembuatan catatan asli dari setiap transaksi.
b. Pencatatan transaksi. Dengan berdasarkan dokumen-dokumen diatas, masing-masing transaksi dicatat secara berurutan (kronologis) didalam buku harian. Buku harian yang digunakan dapat memakai buku harian khusus atau buku harian umum
c. Pemindahan transaksi kedalam buku besar. Setelah masing-masing transaksi dicatat dibuku harian, selanjutnya dimasukkan kedalam akun-akun yang sesuai pada buku besar dan buku tambahan.
Selanjutnya, pada tahap pengikhtisaran, rangkaian langkah yang dilakukan adalah:
a. Pembuatan neraca sisa dari akun-akun buku besar. Neraca sisa menyajikan suatu ringkasan informasi yang diklasifikasikan dibuku besar, dan juga merupakan suatu pengkoreksian umum atas keakuratan pencatatan dan pemindahan ke buku besar.
b. Penyesuaian atas beberapa akun-akun agar dengan tanggal bersangkutan.
Sebelum laporan keuangan dapat disusun semua informasi yang dapat dipertanggung jawabkan dan belum tercatat mesti ditetapkan. Penyesuaian harus dibukukan (pada kertas kerja) sehingga akun-akun akan sudah sesuai dengan keadaan saat bersangkutan sebelum penyusunan laporan keuangan dilaksanakan.
c. Penyusunan laporan keungan Intormasi mengenai ikhtisar kegiatan pada kertas kerja termasuk perubahan-perubahan dalam posisi keuangan akan menjadi dasar disusunnya laporan keuangan untuk periode berjalan.
d. Penutupann akun-akun yang bersifat sementara. Seluruh saldo-saldo akun persediaan (bila perusahaan menggunakan sistem persediaan periodik), diutup akun-akun ikhtisarkan yang bersangkutan "dan selanjutnya dipindahkan ke akun kekayaan pemilik.
e. Pembuatan neraca sisa setelah penutup. Dilakukan untuk menentapkan kesamaan antara debet dan kredit setelah pembukuan ayat-ayat penyesuaian dan penutup.
f. Pembalikan akun-akun tertentu. Langkah ini tidak harus ditempuh, namun kerap kali diperlukan sebagai suatu cara untuk memudahkan pencatatan dan penyesuaian pada periode selanjutnya. Adapun akun-akun ditangguhkan (deferred item) dan akun-akun antisipasi (accured item).
Prosedur-prosedur ini merupakan suatu siklus lengkap yang lazimnya dilaksanakan dalam setiap periode fiskal.

Terbaru 2020 - Evaluasi Pembelajaran Musik

Resep Masakan Terbaru

a.      Evaluasi Pembelajaran Musik
         Kata evaluasi mungkin sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Seperti contoh, pemilik toko melakukan evaluasi setiap hari agar, pemilik  toko tersebut mengetahui omset yang  di dapat setiap harinya. Selain itu adapun contoh lain, pelatih selalu melakukan evaluasi setelah mengikuti perlombaan, karena kekalahannya.
            Dari kedua kalimat menunjukan bahwa kata evaluasi selalu berhubungan dengan peningkatan kualitas dan penelaahan, atau pengamatan untuk melihat kekurangan, setelah ditemukan kekurangan maka diperbaiki agar terjadi perubahan kualitas menjadi lebih baik.,
                        Evaluasi adalah upaya untuk mengkaji kembali kegiatan atau peristiwa yang telah terjadi, dengan cara menelaah bukti-bukti yang ada. Upaya ini dilakukan untuk menilai apakah hal yang telah terjadi sudah sesuai harapan atau belum. Bila belum sesuai dicoba untuk ditemukan dimana letak permasalahannya. Temuan tersebut amat bermakna dalam upaya memperbaiki keadaan atau mencapai harapan yang diinginkan. (Milyartini, 3: 2009)

          Sedangkan dalam dunia pendidikan, evaluasi juga memiliki makna yang sama,
               Dalam evaluasi pendidikan terdapat upaya untuk mengumpulkan data-data-data yang sering disebut assesment. Dalam pengumpulan data dilakukan pengukuran (measurement). Setelah terkumpul data kemudian dilakukan penelaahan untuk mengetahui dan menemukan aspek-aspek yang masih kurang memuaskan. Kegiatan ini disebut penilaian.( milyartini, 3:2009)

Dari pernyataan di atas ada disebutkan tentang penilaian, dilihat dari pelaksananya penilaian tersebut dapat dibagi dua yaitu penilaian ekternal dan penilaian internal seperti yang diungkapkan Tim Litbang Puskur (2006:3) dalam Milyartini (2009: 4) menjelaskan,
          Penilaian eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain yang tidak melaksanakan proses pembelajaran. Penilaian eksternal dilakukan oleh suatu lembaga, baik dlam maupun luar negeri dimaksudkan antara lain untuk pengendali mutu. Sedangkan penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan dilaksanakan oleh guru pada saat proses pembelajaran berlangsung.

          Mengenai evaluasi dalam pembelajaran musik peneliti mengambil intisari dari buku Evaluasi pendidikan musik, Milyartini (2009: 5-6) yang menjelaskan,
     Evaluasi dalam pembelajaran musik juga mencakup proses pengukuran dan penilaian. Pengukuran sendiri, datanya tidak selalu bersifat kwantitatif atau berupa angka-angka, banyak data yang dibutuhkan dalam pendidikan musik yang memiliki sifat kualitatif. Sebagai contoh, seorang guru yang ingin mengetahui kemampun vokal seorang siswa yang akan ia tempatkan dalam kelompok paduan suara. Wilayah suara dan warna suara merupakan contoh data dalam pendidikan musik yang memiliki sifat kualitatif.

b. Ranah penilaian dalam pendidikan musik
               Istilah ranah kognitif, afektif dan psikomotor merupakan istilah yang dikembangkan oleh Bloom (1969). Lebih rincinya Bloom (1969) dalam Milyartini (2009: 36) menjelaskan,
Ranah kognitif dibagi menjadi enam tingkatan yaitu; pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah afektif dibagi menjadi lima aspek yaitu; penerimaan, merespon, menilai, organisasi, dan karakterisasi berdasarkan nilai-nilai yang kompleks. Sementara ranah psikomotor dbagi menjadi tujuh kategori yaitu; persepsi, set, respon terpimpin, mekanisme, respon nyata yang kompleks, adaptasi dan keaslian.


Dalam pelaksanaannya evaluasi pendidikan musik juga harus terkait dan berpatokan kepada ketiga ranah tersebut. Artinya dalam proses pembelajaran musik harus terdapat tujuan dari ketiga ranah tersebut, tujuan, kognitif, afektif dan psikomotor, jadi dalam mengevaluasi pun yang dilihat adalah keberhasilan ketiga ranah tersebut, apakah sudah tercapai atau belum.

Terbaru 2020 - Hakikat belajar

Resep Masakan Terbaru

 Hakikat belajar
    Belajar merupakan aktivitas yang disengaja dan dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar siswa yang tadinya tidak mampu menjadi mampu melakukan sesuatu, atau yang tadinya tidak terampil menjadi terampil.
     Belajar menurut Gagne (1984) dalam buku  Kurikulum dan Pembelajaran     (Ruhimat, 2009:116) adalah suatu proses di mana suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari pengertian tersebut, ada tiga pokok dalam belajar yaitu proses, perubahan perilaku dan pengalaman. Adapun pengertiannya yaitu:
1.    Proses
“Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya aktif. Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi dirasakan oleh dirinya sendiri. (Ruhimat, 2009: 115).

     Dalam pelaksanaannya, guru tidak dapat melihat aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Misalnya anak melihat ke depan, melihat ke papan tulis belum tentu dia memperhatikan, bisa saja hatinya melamun atau memikirkan hal lain. Sebaliknya anak yang pendiam, dia tidak aktif bertanya, hanya diam saja di dalam kelas bukan berarti dia tidak belajar, mungkin saja dia memperhatikan dan selalu berusaha memahami setiap pelajaran yang diberikan oleh guru. Namun guru dapat melihat gejala yang nampak dari aktivitas mental dan emosional siswa, sebagaimana pernyataan Ruhimat yang menyebutkan,

Siswa bertanya, menanggapi, menjawab pertanyaan guru, diskusi, memecahkan permasalahan, melaporkan hasil kerja, membuat rangkuman, dan sebagainya. Itu semua adalah gejala yang nampak dari aktivitas mental dan emosional siswa (Ruhimat, 2009: 116).


     Berdasarkan pemaparan di atas, interaksi antara siswa dan guru sangat penting sekali, karena siswa yang berinteraksi dengan baik akan mempunyai pengalaman yang baik juga. Selain itu, setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, ada yang cepat tanggap, dan ada yang lambat dalam berpikir, itu merupakan aktivitas mental dan emosional siswa berbeda.

2.    Perubahan Perilaku
      Hasil belajar akan nampak pada perubahan perilaku individu yang belajar. seseorang yang belajar akan mengalami perubahan perilaku sebagai akibat kegiatan belajarnya. Pengetahuan dan keterampilannya bertambah, dan penguasaan nilai-nilai dan sikapnya bertambah pula.
3.    Pengalaman
“Belajar adalah mengalami, bahwa belajar terjadi karena individu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkunga fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik adalah lingkungan disekitar individu baik dalam bentuk alam sekitar (natural)  maupun dalam bentuk hasil ciptaan manusia (cultural). (Ruhimat,2009:118)

    Berdasarkan pengertian di atas, belajar merupakan pengalaman yang sangat berharga, di mana kita dapat berinteraksi dengan alam sekitar dan orang-orang yang ada di sekeliling kita.

    “Berdasarkan Sudjana dalam ruhimat (1989:28) menyatakan bahwa” belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar dapat di pandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. belajar juga merupakan proses melihat,mengamati, dan memahami sesuatu”.

     Melihat dari pengertian di atas, belajar merupakan sebuah pengalaman yang baik, karena siswa dapat berinteraksi dengan guru dan siswa yang lainnya, agar mengalami pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses belajar, dimana guru dan siswa berinteraksi dengan baik, untuk mengalami proses belajar. Dan menghasilkan pengalaman yang dapat menjadikan bekal dimasa yang akan datang.
     Dalam pembelajaran angklung di SMP Negeri 1 Padalarang, guru dan siswa selalu berinteraksi dengan baik dan saling membantu satu sama lain untuk kemajuan pembelajaran angklung tersebut. siswa di tuntut untuk dapat memainkan lagu dan menghafalnya dalam setiap latihan. Karena itu merupakan langkah untuk menjadikan siswa tersebut untuk selalu belajar dan memahami materi atau lagu yang disampaikan  oleh pelatih. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan berinteraksi yang baik akan membuat siswa lebih maju dan mempunyai bekal untuk masa yang akan datang.

Jumat, 14 Juni 2019

Terbaru 2020 - Macam-Macam Menyunting

Resep Masakan Terbaru

Menyunting Ejaan (Huruf Kapital dan Tanda Baca)
Menyunting tulisan dapat diartikan memperbaiki tulisan. Perbaikan itu dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan berkaitan dengan kaidah penulisan. Perbaikan dapat bersifat menyeluruh atau sebagian. Ada 3 tahapan dalam menyunting, yakni membaca cermat, menandai yang salah, dan memperbaiki kesalahan. Pada tahap awal, penyuntingan dapat difokuskan kepada aspek penulisan ejaan, khususnya penulisan huruf kapital dan tanda baca. 
Huruf kapital atau huruf besar merupakan huruf yang penulisannya diatur dalam kaidah ejaan. Selain huruf kapital, kaidah ejaan juga mengatur penulisan huruf miring, kata, unsur serapan, dan tanda baca. Dalam hal yang terakhir ini, tanda baca meliputi tanda titik (.), tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), tanda hubung (-), tanda pisah (--), tanda elipsis (…), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung ( (…) ), tanda kurung siku ([ ]), tanda petik (“…”), tanda petik tunggal (‘…’), tanda garis miring (/), tanda penyingkat atau Apostrof (‘). 
Menyunting Kata 
Kegiatan menyunting sangat penting bagi penulis. Hal ini karena penulislah yang tahu betul seluk-beluk tulisannya. Namun, menyunting juga dapat dilakukan oleh orang lain. Usaha peningkatan kemampuan menyunting membutuhkan serangkaian pelatihan secara bertahap. Salah satu hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kemampuan menyunting di antaranya adalah pengenalan terhadap kaidah penulisan kata dan pemilihan kata.
Kaidah penulisan kata meliputi kaidah penulisan kata dasar, kata turunan, bentuk ulang, gabungan kata, kata ganti, kata depan, kata si dan sang, partikel, singkatan dan akronim, serta angka dan lambang bilangan. Adapun pemilihan kata yang cermat dapat didasarkan tiga tolok ukur, yaitu (1) ketepatan, (2) kebenaran, dan (3) kelaziman. Kata yang tepat adalah kata yang dapat mengungkapkan gagasan atau makna secara tepat. Kata yang benar adalah kata yang ditulis sesuai dengan bentuk yang benar. Kata yang lazim adalah kata yang biasa digunakan untuk mengungkapkan gagasan tertentu (Depdikbud 1995:56). Memperhatikan 3 hal di atas, dalam menyunting tulisan dituntut dapat melihat penggunaan kata dalam sebuah tulisan sudah tepat, sesuai, benar, dan lazim.

Menyunting Kalimat 
Menyunting tulisan dapat diartikan memperbaiki tulisan. Perbaikan itu dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan berkaitan dengan kaidah penulisan. Perbaikan dapat bersifat menyeluruh atau sebagian. Ada tiga tahapan dalam menyunting, yakni membaca cermat, menandai yang salah, dan memperbaiki kesalahan. Dalam tulisan ilmiah, penyuntingan perlu dilakukan dalam lingkup kalimat, khususnya mengenai kebakuan kalimat yang ada.
Kalimat baku memiliki ciri: (a) fungsi gramatikal kalimat jelas, (b) hemat, (c) bernalar, dan (d) bebas dari pengaruh struktur bahasa daerah maupun bahasa asing. Selain itu, kebakuan kosakata dan istilah yang dikandung dalam sebuah kalimat juga akan sangat berpengaruh terhadap kebakuan kalimat.
Menyunting Paragraf 
Menyunting tulisan dapat diartikan memperbaiki tulisan. Perbaikan itu dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan berkaitan dengan kaidah penulisan. Perbaikan dapat bersifat menyeluruh atau sebagian. Ada tiga tahapan dalam menyunting, yakni: membaca cermat, menandai yang salah, dan memperbaiki kesalahan. Penyuntingan dapat difokuskan kepada paragraf yang di dalamnya dapat juga berkaitan dengan penulisan kalimat, frasa, kata atau ejaan. Sebuah paragraf dikatakan baik jika mengandung lima ciri, yakni: kesatuan, kepaduan, konsistensi sudut pandang, ketuntasan, dan kerunutan.


Terbaru 2020 - Hakikat Penyuntingan

Resep Masakan Terbaru


Kata penyuntingan berarti proses, cara, perbuatan menyunting atau sunting-menyunting (sunting-menyunting berarti perbuatan atau pekerjaan menyunting). Penyuntingan merupakan proses membaca, mencermati, memperbaiki naskah yang telah dikirim seorang penulis naskah sehingga naskah tersebut siap untuk dimuat atau diterbitkan oleh sebuah penerbitan. Pada media noncetak, penyuntingan merupakan proses membaca, mencermati, memperbaiki naskah yang telah dikirim seorang penulis naskah sehingga naskah tersebut siap untuk disiarkan dan ditayangkan oleh media audio dan visual.
Tujuan penyuntingan, baik untuk media cetak maupun noncetak adalah (1) membuat naskah bersih dari kesalahan kebahasaan dan isi materi dengan persetujuan penulis naskah, (2) membuat naskah yang akan dimuat, diterbitkan atau disiarkan dan ditayangkan lebih mudah dan enak dicerna, (3) menjadi jembatan yang dapat menghubungkan ide dan gagasan penulis dengan pembaca, pendengar, dan penonton, (4) mengolah naskah hingga layak terbit (siar untuk media noncetak) sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan dan dipersyaratkan oleh penerbit atau penyelenggara program siaran. Manfaat penyuntingan dapat dirasakan oleh 3 pihak yang terkait langsung, yakni penerbit (penyelenggara program siaran), penulis, dan pembaca (pendengar dan penonton).
Media berarti: (1) alat; (2) (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Media cetak berarti sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara berkala seperti surat kabar, majalah. Dalam bagian ini disampaikan macam-macam media cetak (format media, istilah yang dipakai Ashadi Siregar), yakni newsletter, surat kabar, tabloid, dan majalah. Di samping itu, buku juga merupakan media cetak yang memerlukan penyuntingan.
Menyunting naskah yang akan dimuat dan diterbitkan salah satu media cetak berbeda antara jenis tulisan yang satu dan yang lain. Newsletter, surat kabar, tabloid, majalah dan jurnal, serta, buku memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Masing-masing media cetak memiliki keunikan dan kekhasan. Media noncetak (elektronik) berarti sarana media massa yang mempergunakan alat-alat elektronik modern, misalnya radio, televisi, dan film. Dalam subbagian ini disampaikan media noncetak, yakni radio dan televisi.

Penyuntingan terhadap media noncetak, baik radio maupun televisi, seperti halnya pada media cetak, berbeda karena masing-masing memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Kedua media noncetak tersebut memiliki karakteristik yang berbeda sehingga naskah yang akan disiarkan pun berbeda. Dengan demikian, penyuntingannya pun berbeda

Terbaru 2020 - Pengertian Menyunting

Resep Masakan Terbaru


Penyuntingan berasal dari kata dasar sunting. Kata sunting melahirkan bentuk turunan menyunting (kata kerja), penyunting (kata benda), dan penyuntingan (kata benda). Kata menyunting berarti menyiapkan naskah siap terbit dengan memperhatikan sisi sisematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat). Orang yang melakukan pekerjaan menyunting disebut penyunting. Sementara itu, penyuntingan bermakna proses, cara, perbuatan, yang terkait dengan kegiatan sunting-menyunting.
Menyunting dapat diartikan sebagai kegiatan membaca kembali sambil menemukan kesalahan-kesalahan redaksional sebuah tulisan. Proses ini biasanya dilakukan oleh diri sendiri terhadap tulisan sendiri atau penyunting terhadap tulisan orang lain. Kegiatan penyuntingan terlihat sepele sehingga tahap ini sering sekali terabaikan. Padahal, pengalaman hampir semua penulis besar mengungkapkan, proses penyuntingan adalah sebuah tahapan menulis yang menjadi salah satu kunci sukses mereka menjadi penulis ternama.
Untuk menangkap kesalahan, baik ejaan, gaya, maupun pemakaian kata, kita harus membaca dan membaca tulisan kita. Bila perlu bacalah dan cek ejaan atau kata yang meragukan dengan membuka kamus berkali-kali. Untuk mencari kesalahan dalam tulisa Anda, tanpa mengurangi kelancaran menulis maka hindari mengecek ejaan atau pemakaian kata pada saat menulis. berkali-kali membuka kamus atau buku pedoman di tengah Anda menulis akan menghambat kelancaran kreativitas dan tindakan itu juga memakan waktu.
Setelah selesai menulis, segeralah melakukan pengecekan ulang sekali lagi. Sering mata Anda telenda pada satu baris atau paragraf ketika Anda mengecek cerita Anda. Pengecekan ulang akan mengurangi kesalahan. Bila Anda menemukan kata yang salah eja atau salah pakai, tulislah dalam buku catatan Anda. Jangan malu menyimpan daftar kata yang membingungkan agar selalu bisa mengecek mana yang salah dan mana yang benar dengan cepat. Belajar mengeja kata-kata itu akan sangat membantu. Terlebih bila si pewarta memahami tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kadang pewarta warga beranggapan penyuntingan hanyalah pekerjaan tim penyunting. Di portal suarakomunitas.net, mereka biasanya mengirim tulisannya, meskipun kondisi masih amat mentah, pewarta belum mencek ketepatan kata, tanda baca, pemenggalan kalimat, dan lain-lain. Pendapat ini ada benarnya, tetapi apabila pewarta terbiasa menyunting tulisannya sendiri, maka dia akan terhindar dari kesalahan-kesalahan penulisan kecil. Pengalaman menyunting memberikan banyak keuntungan pada pewarta, antara lain pesan yang ingin disampaikan pewarta dapat ditangkap dengan baik oleh penyunting dan pembaca. Pewarta juga mewarisi tradisi disiplin dalam menulis. Tradisi ini berimbas kepada sifat-sifat kepribadian lainnya sehingga penulis memiliki kemampuan menghadapi dan menjalankan tugas-tugas lain secara lebih baik. Akibat langsungnya, tulisan pewarta segera dimuat atau ditayangkan.
Penyunting tulisan yang akan dipublikasikan perlu mempertimbangkan aspek pembaca. Tulisan akan dibaca oleh pelbagai kalangan, dengan umur, taraf hidup, dan pendidikan, yang  berbeda-beda sehingga saat menyunting pewarta perlu menyesuaikan gaya tulisannya dengan latar belakang pembaca. Secara garis besar kegiatan penyuntingan meliputi:
·           Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kasat mata.
·           Menghindari kontradiksi dan memperbaiki tulisan sebelumnya.
·           Menyesuaikan gaya bahasa sesuai dengan kebijakan media yang bersangkutan.
·           Meringkas beberapa kalimat menjadi satu atau dua kalimat yang memiliki kejelasan makna serupa
·           Menghindari adanya arti ganda dan tulisan yang membosankan.
·           Melengkapi tulisan dengan anak kalimat atau subjudul
·           Memperbaiki judul supaya menarik.
·           menulis keterangan gambar atau pekerjaan lain yang terkait dengan tulisan yang disunting.

Banyak pewarta warga gagal mempersembahkan karya terbaiknya karena masalah-masalah sepele seperti salah tulis, penggunaan kata yang kurang tepat, kesalahan pemenggalan kata, kalimat, dan paragraph, kesalahan tanda baca, dan lain sebagainya. Pada media massa arus utama, kesalahan ketik hanya boleh sebanyak tiga (3) kali dalam sebuah tulisan. Artinya, saat seorang penyunting membaca tulisan ilmiah Anda dan tiba pada kesalahan ketik yang ke-4, maka dengan segera tulisan tersebut akan dilempar ke tong sampah, tidak peduli apakah substansi tulisan anda itu penting atau tidak.

Terbaru 2020 - Gaya Bahasa Retorika

Resep Masakan Terbaru


1.        Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas dan dikenal, tamsil);
2.        Monopoli Semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang multi-interpretatif);
2.        Fantasy Themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa memukau khalayak);
3.        Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain),
4.        Kreasi Citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang berbicara);
5.        Kata Topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas sesungguhnya);
6.        Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang terlalu kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan);
7.        Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit,  abstrak dan tidak secara langsung menunjuk kepada tema, jawaban normatif);
Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).