Minggu, 15 Januari 2017

Terbaru 2020 - Manfaat Kegiatan Bermain

Resep Masakan Terbaru

Manfaat  Kegiatan Bermain
Menurut Suyanto (2005: 119-121) dalam kegiatan bermain setiap anak mendapat berbagai bentuk manfaat yang dirasakannya, adapun manfaat yang dapat dirasakan anak mencakup berbagai aspek yaitu:
a. Manfaat bermain untuk perkembangan aspek fisik
Bila anak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang banyak melibatkan gerakan-gerakan tubuh, akan membuat tubuh anak menjadi sehat. Otot-otot tubuh akan menjadi kuat, selain itu anak dapat menyalurkan energi yang berlebihan sehingga anak tidak merasa gelisah.
b.  Manfaat bermain untuk perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus
            Saat masih bayi, anak tidak berdaya karena ia belum bisa menggunakan anggota tubuh, saat usia tiga bulan anak tersebut mulai mencoba meraih mainannya. Dari sini anak sudah mulai belajar mengkoordinasikan (menyelaraskan) gerakan mata dengan tangan, saat usia satu tahun anak senang memegang pensil untuk membuat coretan-coretan dan secara tidak langsung anak sudah melakukan gerakan-gerakan motorik halus yang diperlukan saat menulis, sekitar usia tiga tahun anak tersebut sudah bisa membuat garis lengkung, usia empat dan lima tahun anak sudah mulai menggambar bentuk-bentuk. Aspek motorik kasar juga dapat dikembangkan dengan bermain kejar-kejaran dengan teman seusianya.
b.  Manfaat bermain untuk perkembangan aspek sosial
Dalam kegiatan bermain anak, si anak akan belajar berkomunikasi dengan teman seusianya dan mulai belajar hak milik dengan orang lain. Melalui bermain peran, anak juga akan belajar menjadi seorang ayah, ibu, pembantu, dan lain-lain. Yang akan memberikan anak tersebut pengetahuan yang lebih luas dan mulai belajar rasa tanggungjawab.
c.  Manfaat bermain untuk perkembangan aspek emosi atau kepribadian
Dalam bermain juga anak bisa mengungkapkan emosinya seperti contoh di atas, bahwa anak akan bermain boneka-bonekaan dan memukul-mukul boneka tersebut sesukanya, karena anak tersebut sudah dimarahi secara fisik oleh orang tuanya. Anak-anak suka belajar bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat di tengah-tengah kelompok, bagaimana dia bersikap jujur, murah senyum, tulus, bertanggungjawab, dan lain-lain.
d.    Manfaat bermain untuk perkembangan aspek kognisi
Aspek kognisi ini diartikan sebagai pengetahuan yang luas, daya nalar, kreativitas, kemampuan berbahasa, serta daya ingat. Dalam kehidupannya anak-anak akan perlu berkomunikasi, yang pada mulanya hanya dengan bahasa tubuh, seiring dengan bertambahnya usia dan bertambah perbendaharaan kata, maka anak tersebut akan mulai berkomunikasi secara lisan.

e.    Manfaat bermain untuk mengasah ketajaman penginderaan
Pada anak masa pra sekolah perlu dikembangkan ketajaman atau kepekaan penglihatan dan pendengaran, hal ini agar anak lebih mudah dalam belajar mengenal dan mengingat bentuk-bentuk. Tanpa kita sadari anak-anak sejak bayi sudah mulai belajar jenis-jenis suara, seperti mengenali suara ayah dan ibunya. Dan anak juga sudah mulai belajar mengingat warna-warna yang ada di sekitarnya.
f.     Manfaat bermain untuk mengembangkan keterampilan fisik
Bila seorang anak mempunyai tubuh yang sehat dan kuat maka anak tersebut akan sangat aktif dalam bermain, seperti kejar-kejaran, melompat dan bahkan bergulingan, dengan sendirinya anak akan siap untuk melakukan kegiatan yang lebih sulit.
g.    Pemanfaatan bermain sebagai media terapi
Bermain juga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh secara mental, seperti contoh:
1)   Anak yang agresif, suka menyerang orang lain, agresivitas muncul karena gangguan emosional diderita anak, mungkin anak diperlakukan terlalu keras oleh orang tuanya.

2)   Anak yang sulit bergaul, hal ini karena anak kurang bermain dan dia jarang sekali berkomunikasi dengan anak seusianya. 

Terbaru 2020 - Fungsi Bermain

Resep Masakan Terbaru

Fungsi Bermain
Menurut Catron dan Allen dalam Sujiono (2009:145) pada dasarnya bermain memiliki tujuan utama yakni memelihara perkembangan atau pertumbuhan optimal anak usia dini melalui pendekatan bermain yang kreatif, interaktif dan terintegrasi dengan lingkungan bermain anak. Penekanan dari bermain adalah perkembangan kreativitas dari anak-anak. Semua anak usia dini memiliki potensi kreatif tetapi perkembangan kreativitas sangat individual dan bervariasi antar anak yang satu dengan anak lainnya.
Menurut Hartley, Frank dan Goldenson (dalam Moeslichatoen, 2004:33) ada 8 fungsi bermain bagi anak :
a.         Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa.
b.        Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata
c.         Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata.
d.        Untuk menyalurkan perasaan yang kuat
e.         Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima
f.         Untuk kilas balik peran-peran yang biasa dilakukan
g.        Mencerminkan pertumbuhan seperti pertumbuhan tubuhnya
h.        Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah.


Fungsi bermain tidak saja dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan sosial, tetapi juga perkembangan bahasa, disiplin, perkembangan moral, kreativitas dan perkembangan fisik anak. Dengan bermain akan memungkinkan anak meneliti lingkungan, mempelajari segala sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

Terbaru 2020 - Permainan Tradisional Jawa Barat

Resep Masakan Terbaru

Permainan Tradisional Jawa Barat
            Permainan tradisional merupakan salah satu unsur kebudayaan bangsa yang banyak tersebar di berbagai penjuru nusantara. Namun dewasa ini keberadaannya sudah berangsur-angsur mengalami kepunahan, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan, bahkan di beberapa diantaranya sudah tidak dapat dikenali lagi oleh masyarakat. Sebenarnya ada beberapa jenis permainan tradisional yang masih dapat bertahan, itu pun disebabkan karena para pelaku permainan tradisional tersebut berada jauh dari jangkauan permainan modern yang banyak menggunakan alat-alat canggih. Permainan tradisional sebagai salah satu bentuk dari kegiatan bermain diyakini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan fisik dan mental anak (Kurniati, 2010:1).
Jawa Barat juga memiliki berbagai macam permainan tradisional. Permainan tradisional Jawa Barat merupakan suatu aktivitas permainan (kaulinan budak) yang tumbuh dan berkembang di daerah Jawa Barat yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan tata nilai kehidupan masyarakat Sunda serta diajarkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari permainan ini anak-anak dilatih untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, memperoleh pengalaman yang berguna dan bermakna, mampu membina hubungan dengan sesama teman, meningkatkan perbendaharaan kata serta mampu menyalurkan perasaan-perasaan yang tertekan dengan tetap melestarikan dan mencintai budaya bangsa.
Permainan tradisional yang tersebar di Jawa Barat secara umum memberikan kegembiraan kepada anak-anak yang melakukannya. Pada umumnya permainan ini memiliki sifat yang universal, namun setiap daerah atau tempat memiliki cara yang berlainan dalam melakukan permainan ini. Menurut Atmadibrata (Kurniati, 2010:2) masyarakat Jawa Barat disinyalir dari sejak jaman klasik memiliki kecenderungan untuk memiliki keterampilan prestatif yang bersifat “entertainment” dalam wujud permainan rakyat yang dapat dijumpai di mana-mana. Bila permainan yang ada di Jawa Barat ini dikaji ternyata memiliki nilai edukatif, mengandung unsur pendidikan jasmani, kecermatan, kelincahan, daya pikir, apresiasi artistik (unsur seni), kesegaran psikologis dan sebagainya. Macam-macam permainan tradisional di Jawa Barat diantaranya ucing sumput, rerebonan, sorodot gaplok, sapiring dua piring, huhuian, congkak, oray-orayan, perepet jengkol dan sonlah

Terbaru 2020 - Permainan Sonlah

Resep Masakan Terbaru

Permainan Sonlah
             Menurut Kurniati (2010:111) permainan sonlah merupakan permainan yang menuntut koordinasi motorik kasar bagi setiap pemainnya. Permainan ini memiliki beberapa bentuk dasar yaitu sonlah biasa, sonlah jeruk dan sonlah eser.  Hal ini sangat cocok digunakan dalam upaya meningkatkan perkembangan kemampuan fisik/motorik anak terutama keterampilan motorik kasar. Permainan ini biasanya dimainkan di luar ruangan atau area terbuka yang cukup luas seperti halaman atau lapangan. Jumlah pemain yang diperlukan 4 (empat) orang atau lebih (genap). Alat-alat yang dibutuhkan dalam permainan ini yaitu potongan genting atau keramik.
            Adapun prosedur permainan sonlah adalah sebagai berikut:
  1. Anak-anak menentukan pasangan masing-masing, biasanya dilakukan dengan cara hompimpa. Anak-anak yang akan mengikuti permainan ini membentuk formasi melingkar, kemudian dengan menggunakan tangan kanan mereka, anak-anak tersebut menggerakkan tangannya untuk memposisikan telapak tangannya secara telungkup ataupun terlentang, anak yang posisi tangannya sama dengan jumlah yang dikehendaki, misalnya 2 (dua) orang maka dialah yang akan menjadi kelompok bermain anak tersebut.
  2. Pada saat kelompok telah diketahui, maka langkah selanjutnya adalah suit untuk menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu. Suit dengan cara gunting, kertas dan batu.
Kemudian permainan sonlah dimulai dengan cara:
a)      Genting dilempar, harus memasuki kotak yang telah disediakan.
b)      Secara bergantian anak-anak memainkan dari satu kotak ke kotak berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai semua kotak terlalui dan mereka yang selesai terlebih dahulu akan keluar sebagai pemenangnya.

  1. Untuk sonlah eser cara memindahkan genting tidak dilempar oleh tangan, tetapi dilakukan dengan cara menggeser dari satu kotak ke kotak lainnya dengan menggunakan kaki (Kurniati, 2010:111-112).

Terbaru 2020 - Cara Mengembangkan Kecerdasan Kinestetik Pada Anak Usia Dini

Resep Masakan Terbaru

Cara Mengembangkan Kecerdasan Kinestetik Pada Anak Usia Dini
Salah satu cara mengembangkan kecerdasan kinestetik pada Anak Usia Dini salah satuya adalah kelenturan tubuh. Sebagai bagian dari komponen kecerdasan kinestetik, kelenturan melengkapi komponen kinestetik lain. Kelenturan terkait dengan keluwesan dan estetika dari gerakan-gerakan terencana dari manusia. Kelenturan dapat dirangsang melalui kegiatan yang indah, halus dan luwes. Kelenturan juga meliputi kegiatan yang lentur, lancar, tidak kaku. Hampir semua tarian, termasuk balet berfungsi melenturkan gerak tubuh. Kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan kelenturan gerak tubuh anak adalah:
1.      Demonstrasi gerak
“Menari” merupakan paduan gerakan badan (tangan, dan sebagainya) yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian (musik, gamelan, dan sebagainya). Menari memiliki tujuan utama merangsang kemampuan gerak dan kelenturan tubuh. Kegiatan ini diberikan di TPA, KB, dan TK dengan penyesuaian tari.
2.      Menirukan gerakan.
“Meniru gerak” merupakan kegiatan menirukan gerakan-gerakan luwes yang dilihat atau dipersiapkan. Kegiatan ini bertujuan untuk merangsang kepekaan terhadap gerakan luwes yang bernilai estetis (indah).
3.      Mencipta dan meluweskan gerak.
“mencipta dan meluweskan gerak” merupakan kegiatan membuat gerakan spontan dan meluweskan gerakan spontan tersebut. Kegiatan ini bertujuan merangsang kemampuan membuat gerakan yang luwes pada anak.
Sumber gerak tari adalah tubuh secara keseluruhan. Mulai dari gerakan kepala, tangan, hingga kaki. Seperti kita tahu bahwa tubuh itu merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisah-pisah. Ketika anak menari melangkahkan kakinya atau merentangkan tangannya, misalnya tidak berarti bahwa bagian-bagian tubuhnya yang lain tidak turut menari. Bahkan kesatuan dan keseimbangan seluruh anggota tubuhnya sangat utama dalam menari. Anggota tubuh yang digerakkan baik secara sadar atau tidak, dalam menari harus tetap menjadi satu kesatuan, sehingga keseimbangan dari perwujudan seluruh tubuh tetap terjaga dan tertata dalam ruang.
Mengenal struktur tubuh atau anatomi merupakan pengetahuan penting bagi anak di dalam menari. Anak diberi kesempatan mengidentifikasi dan mendemonstrasikannya melalui gerakan tari yang terkoordinasi dengan bagian struktur tubuh atau anatomi, seperti persendian yaitu : siku, lutut, pinggang, leher, pergelangantangan, pundak atas.
Mengorganisasikan gerakan tubuh atau melakukan olah tubuh dalam menari, dapat dilakukan melalui:
a.    Gerakan dinamis, merupakan gerakan yang dilakukan secara wajar oleh anak namun indah dilihat. Untuk melakukan gerakan dinamis dalam menari tidak semua anak mampu, oleh karenanya anak perlu mendapat latihan seperti menggerakan tangan dan kaki secara harmonis sesuai irama musik, baik bergerak di tempat maupun sambil berpindah tempat mengisi ruang tempat ia menari dan mengolah tubunya dengan gerakan spontan tapi seirama. Melatih kemampuan anak mengkoordinaskan gerak struktur tubuhnya harus dengan irama iringan, baik irama iringan musik dari kaset maupun irama iringan alat musik pukul. Gerakan dinamis yang dilakukan anak dalam menari akan diperolehnya melalui kemampuan mereka mengkoordinasikan gerakannya dengan merespons iringan musik dengan baik.
b.    Pembentukan tubuh, pembentukan tubuh bagi anak usia dini tidak harus menggunakan teknik yang sulit. Latihan pembentukan tubuh yang diajarkan cukup dengan cara mendemonstrasikan gerakan lateralatau ke arah samping dan menyilang ke arah samping, atau gerakan yang menggunakan bagian tubuh atas dan bawah dalam waktu yang bersamaan.
Beberapa keterampilan tubuh yang penting dilakukan anak dalam menari, yaitu:
a.    Keseimbangan, keseimbangan adalah kemampuan anak untuk mendemonstrasikan kemampuan berjalan, melingkar, berjalan jinjit, dan kemampuan menyeimbangkan satu kaki selama dua atau tiga detik.
b.    Kekuatan, merupakan kemampuan untuk mengungkapkan ekspresi gerak tubuh anak dalam menari.
c.    Rentang gerak, anak mampu mendemonstrasikan fleksibilitas dari gerakan berputar-putar pinggang, pundak, lutut dan kaki.
d.   Menghubungkan, yang maksud dengan keterampilan menghubungkan adalah keterampilan anak menggerakan bagian tubuh secara tersendiri, seperti : menggerakan tangan kanan saja atau kepala saja atau pada waktu yang bersamaan memfokuskan pada perhatian dan arah.
Kesadaran tubuh menunjuk pada kemampuan anak untuk mengenal nama-nama bagian tubuhnya yang bemacam-macam serta kemampuan untuk mengontrol setiap bagian dari tubuhnya secara terpisah. Bagian-bagian tubuh yang perlu dikenal anak dalam menari melibatkan tiga wilayah meliputi :
1.    Wilayah kepala, yaitu : dahi, muka, pipi, alis, hidung, mulut, telinga, rahang, dagu, mata dan rambut.
2.    Wilayah badan bagian atas, yaitu : leher, bahu, dada, perut, lengan tangan, siku, pergelangan, telapak dan jari-jari.
3.    Wilayah badan bagian bawah, yaitu : pinggang, pinggul, pantat, paha, lutut, betis, pergelangan kaki, tumit, bola-bola kaki dan jari-jari.
Bagian-bagian tubuh seperti kaki, tangan, kepala dan wajah dalam menari memiliki peran dan fungsi masing-masing serta merupakan media dalam gerak. Seperti tangan, misalnya dibandingkan dengan kaki, tangan lebih banyak memiliki fungsi sebagai media komunikasi, seperti isyarat untuk menunjuk, memanggil, mengacungkan jempol, dan lain-lain. Di dalam tari, tangan juga merupakan media ungkap. Desain atau konsep gerak tangan dalam menari sangat dominan variatif. Bagian-bagian tubuh ini sangat penting dalam mengekspresikan makna, dan sebagai medium ungkap menyampaikan ekspresi di dalam menari.
Gerak merupakan dasar belajar tari. Anak pada umumnya senang bergerak. Ketika anak bergerak sambil menari, merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi mereka. Bergerak sambil menari ini akan membantu baik guru maupun anak untuk memahami gerak yang terintegrasi dalam tari. Tari dapat membantu anak mengenal pengetahuan bagaimana menginternalkan pengalaman gerak, bagaimana menciptakan gerak secara spontan. Dalam pembelajaran tari mereka mampu menggunakan gerakan untuk menyampaikan sesuatu. Gerak memberikan pemahaman kognitif antara ide, gerak, maksud, hasil atau solusi.
Kesadaran akan gerakan-gerakan anggota tubuh anak seperti tepukan tangan yang ritmis misalnya, atau hentakan kaki yang ritmis atau dalam suasana keceriaan di kelas maupun di luar kelas merupakan kepekaan anak dalam menari. Kepekaan ini sangat penting sebab semakin meningkat pemahaman anak semakin bagus ia menampikkan gerakannya. Gerakan-gerakan tubuh yang sederhana tersebut relatif mudah direspon oleh anak-anak. Gerakan tubuh anak dalam menari, seberapapun sederhananya, dimaksudkan untuk menari.
Dalam menari, anak bergerak secara natural. Mereka bergerak untuk mencapai mobilitas, bergerak untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, dan bergerak karena menyenangkan dan merasa bahagia. Ketika gerakan mereka menjadi terstruktur dan dipertontonkan dengan penjiwaan sesuai dengan gerakannya maka itu disebut tari. Sama halnya dengan mengorganisasikan bunyi menjadi sebuah musik. Anak belajar struktur gerak sama dengan ketika mereka belajar bahasa. Meskipun pembelajaran untuk anak usia dini menyertakan pelajaran menggambar dan bernyanyi, sering terlupakan memasukan pengorganisasian gerak ke dalam suatu pengalaman indah. Gerak tari bagi anak usia dini disesuaikan dengan usianya, dan gerakan itu mampu memberikan informasi.
Gerak tubuh penari membutuhkan ruang, seperti halnya benda, yang mengisi suatu volume di dalam suatu ruang. Dalam tari, tubuh bukan hanya mengisi ruang, melainkan juga menciptakan ruang. Ketika seorang anak merentangkan tangannya, misalnya maka dengan sendirinya suatu ruang gerak akan tercipta. Kemampuan kesadaran ruang yang mereka ciptakan tadi, menunjuk pada posisi tubuh yang dikaitkan dengan ruang sekelilingnya. Ini merupakan dasar dalam perkembangan kemampuan gerak perseptual anak. Gerak perseptual dihasilkan oleh kemampuan anak mengindera rangsangan dan menentukan gerak yang sesuai dengan rangsang itu. Anak menerima dan merespons rangsang melalui keterampilan gerak yang menarik dan unik dengan menggunakan elemen-elemen tari kemudian mendemonstrasikannya lewat kosa kata tari. Pengembangan kosa kata tari, seperti memberi nama gerakan yang berlawanan, misalnya besar-kecil, cepat-lambat, bergerak-berhenti, dan lain sebagainya
Bentuk-bentuk ruang dalam menari unuk anak usia dini adalah :
1.    Arah,anak menggunakan tubuhnya untuk menciptakan arah seperti, melakukan gerakan ke depan, ke belakang, ke samping, meninggi dan merendah serta berbelok sambil menjelajahi tempat yang kecil, besar, tinggi bahkan rendah.
2.    Jalan setapak,anak menari dalam ruang yang lurus, berbelok, dan melingkar dengan jalan setapak.
3.    Level, anak menari dengan level intensitas yang tinggi, menengah dan rendah.
4.    Bentuk, anak mendemonstrasikan bentuk-bentuk geometri dengan tubuh, seperti melingkar, segitiga, segiempat, bintang, oval, bentuk bulan sabit. Contohnya anak menari membentuk huruf  “X”, “P”, an “L”.
5.    Bentuk individual, anak bergerak pada ruang sendiri dan pada ruang teman lainya. Misalnya, anak bergerak pada ruang sendiri, kemudian bergerak di posisi temannya, demikian sebaliknya.
6.    Hubungan, anak menari dan mengidentifikasi hubungannya dengan posisi yang jelas dengan teman lain, seperti : gerakan si Anita berhubungan dengan gerakan teman di sampingnya, juga berhubungan dengan teman didepannya, dan berhubungan dengan teman dibelakangnya, ke muka atau menjauh.
Aspek waktu amat penting dalam menari dan hal ini perlu diperhatikan oleh guru. Untuk melompat misalnya, anak butuh waktu 3 detik, untuk melangkah membutuhkan waktu 2 detik. Atau suatu gerakan yang sama seperti gerakan jalan di tempat jika dilakukan dalam waktu yang berbeda, akan berbeda pula efek dan rasanya, baik bagi anak yang melakukannya, maupun bagi orang lain yang melihatnya. Walaupun tidak selalu, aspek waktu dalam tari sering terkait dengan musik pengiringnya, yang memang secara bersama-sama menjalani waktu tersebut. Istilah yang banyak dipakai yang berkaitan dengan waktu adalah irama. Jadi gerakan tari adalah gerakan yang berirama, yang diatur waktunya. Pengaturan waktu yang dimaksud adalah cepat-lambatnya tarian. Waktu diatur sesuai dengan kebutuhan atau keadaan. Sebagai contoh, anak melakukan gerakan yang lambat, bukan karena santai, atau sebaliknya bergerak cepat bukan karena tergesa-gesa melainkan karena itulah waktu yang cocok untuk melakukan tariannya.
Aspek waktu dalam menari adalah:
1.    Tempo, anak menari dengan tempo yang berbeda-beda tergantung pada perubahan iringan musik atau instrumen.
2.    Ritme, anak menari dengan ketukan yang tetap, seirama dengan musik atau instrumen.
3.    Pola, anak menari dengan pola ritmik.
4.    Musik, anak berimprovisasi dengan merespons musik.
Untuk bergerak anak perlu tenaga. Aspek tenaga dalam menari berhubungan dengan kemampuan untuk menciptakan daya (force), menyerap tenaga, mengatur keseimbangan, mengatur jarak, kecepatan, serta aliran gerak. Besar kecil tenaga yang dikeluarkan anak dalam menari tergantung dari kebutuhannya. Dalam tari tenaga diatur, seperti keras-lemahnya, besar-kecilnya, sesuai dengan yang diperlukan. Pengaturan tenaga ini disebut dengan dinamika. Tenaga besar melahirkan dinamika gerakan yang kuat, dan tenaga yang kecil melahirkan dinamika yang lembut. Contoh, anak menari dalam berkelompok sambil membawa tongkat, gerakan-gerakan yang dilakukan seperti meloncat ke atas, diselingi dengan langkah kaki seperti derap langkah tentara. Gerakan anak ini menciptakan ruang besar, dan rasa waktu yang cepat, serta menciptakan dinamika yang kuat. Dengan demikian, aspek fisik atau teknik tari berkenaan dengan ruang, waktu dan tenaga.


Terbaru 2020 - Indikator Kecerdasan Kinestetik Anak Usia Dini

Resep Masakan Terbaru

Indikator Kecerdasan Kinestetik Anak Usia Dini
Anak-anak yang mempunyai kecerdasan kinestetik yang baik sering tidak bisa duduk makan, dan biasanya minta izin keluar untuk bermain. Mereka cenderung banyak gerak, sulit untuk duduk tenang, dan membutuhkan kesempatan aktif lebih besar dari pada anak sebayanya. Duduk tenang bagi anak-anak yang berkembang dalam kinestetik sangatlah menyiksa. Mereka benar-benar membutuhkan aktivitas menyentuh-meraba, menggerakan tangan, tubuh, dan motorik halus untuk belajar atau mempelajari sesuatu.
Sebagian dari anak yang berkembang dalam kinestetik terlihat menonjol dalam aktivitas motorik halus, seperti mengetik, menggambar, memperbaiki, menjahit (menjelujur), meniru tulisan/menulis, menggunting, mewarnai, dan keterampilan motorik lain. Koordinasi tangan dan mata mereka sangat baik dibanding anak-anak sebayanya.
Pada Anak Usia Dini (sampai usia 6 tahun) kecerdasan kinestetik terdeteksi melalui indikator berikut :
1.      Anak terlihat aktif, terus bergerak, jarang tampak diam sekalipun sedang tidak enak badan, berjalan-jalan di kelas pada saat mengerjakan tugas di meja, sebentar-sebentar keluar lalu masuk ke kelas lagi, sebentar-sebentar berdiri, berjalan, lalu duduk lagi.
2.      Anak memiliki kekuatan otot yang tampak menonjol dari anak sebayanya, berani berayun, memanjat bola dunia, papan panjatan, melompat dengan kuat dan mendarat dengan tepat.
3.      Anak suka menyentuh-nyentuh benda yang baru dilihatnya, memegang-megang krayon yang baru dibelinya, menyentuh tombol televisi, bermain dengan tuts pianika, memegang cat basah, sangat peka terhadap tekstur.
4.      Anak terlibat dalam kegiatan fisik sepak bola, berenang, dan bersepeda.
5.      Anak unggul dalam kompetisi aktivitas fisik atau olah raga di lingkungan lembaga PAUD, seperti TPA, KB, dan TK, seperti lomba lompat kodok, menendang bola, berlari, merebut bola.
6.      Anak pandai menirukan gerakan-gerakan orang lain, membungkuk seperti orang tua, merangkak, seperti adik bayi, mengayun-ayunkan tangan, seperti orang kampanye, menirukan gerakan teman  yang menangis, hantu cina yang melompat, dan menirukan gaya mengajar bu guru di depan kelas (usia 3-6 tahun).
7.      Anak menikmati kegiatan bermain tanah atau pasir (usia 2-4 tahun), melukis dengan jari, kegiatan menanam, mengecat (usia 4-6 tahun).
8.      Anak relatif luwes saat berbicara karena menggunakan gerakan tubuh sebagai pendukung, menggerakan tangan saat berbicara, serta terlihat luwes saat menari (3-6 tahun).
9.      Anak memiliki keseimbangan yang bagus dari teman sebaya, tidak jatuh saat meniti titian, memiliki pijakan kaki yang lebih mantap, menggerakan tangan seperti terbang tanpa jatuh, dan menikmati kegiatan fisik yang menantang (3-6 tahun).
10.  Anak memiliki ketahanan fisik yang baik, kuat berdiri satu kaki lebih lama dibandingkan teman sebaya, lebih lama bertahan dalam kegiatan fisik.


Terbaru 2020 - Indikator Kecerdasan Kinesterik

Resep Masakan Terbaru

 Indikator Kecerdasan Kinesterik
Kecerdasan kinestetik memungkinkan manusia membangun hubungan yang penting antara pikiran atau tubuh, dengan demikian memungkinkan tubuh untuk memanipulasi objek dan menciptakan gerakan. Perkembangan Kecerdasan kinestetik sangat bervariasi, tergantung pada komponen (kekuatan atau kelenturan) atau domain (gimnastik, bisbol, pantomime) (Armstrong, 2003).
Kecerdasan kinestetik atau kecerdasan olah tubuh merangsang kemampuan seseorang untuk mengolah tubuh secara ahli, atau untuk mengekspresikan gagasan dan emosi melalui gerakan. Ini termasuk kemampuan menangani suatu benda dengan cekatan dan membuat sesuatu. Pebasket, penari, koreografer, dan pantomim sangat membutuhkan kecerdasan olah tubuh ini (Schmidt, 2002).
Kemampuan yang muncul pada indikator kecerdasan kinestetik adalah sebagai berikut:
1.      Mengikuti satu atau lebih kegiatan olahraga atau kegiatan fisik secara teratur. Mereka mungkin mengikuti atau menekuni sepak bola, bulu tangkis, berenang, senam, atletik, atau bela diri.
2.      Tidak betah duduk berlama-lama. Mereka memerlukan gerak, tidak dapat diam dalam waktu lama, dan bergerak bahkan ketika sedang duduk menyimak sesuatu.
3.      Menyukai pekerjaan yang melibatkan keterampilan tangan yang konkret. Mereka menikmati kegiatan yang bertumpu pada keterampilan motorik halus, seperti menjahit, merajut, memahat, bertukang atau merakit model. Pada anak-anak kegiatan seperti mencocok, menggambar, menyalin, kolase atau kegiatan motorik halus lainnya.
4.      Gagasan sering muncul ketika berkegiatan fisik. Mereka memiliki kepekaan berpikir ketika ada rangsang dari gerak tubuh. Pada saat berjalan, berjoging atau menari, tubuh mereka memberi sinyal kepada otak sehingga peka terhadap rangsang dari luar. Dari sinilah ide-ide muncul. Pada saat berbicara, mereka menggerak-gerakkan tangan.
5.      Senang menghabiskan waktu luang dengan beraktifitas di ruang terbuka. Mereka memilih kegiatan yang terkait dengan kinestetik (jalan-jalan, lari-lari) sebagai cara untuk mengisi waktu, terutama berjalan-jalan atau berlari-lari menghirup udara segar dan ruang terbuka.
6.      Sering menggunakan gerak tangan/bahasa tubuh ketika berbicara. Mereka mengisi kekosongan berbicara dan menguatkan ide berbicara dengan menggerakan tangan. Gerakan tangan dan bagian tubuh membantu mereka menemukan ide-ide untuk terus berbicara.
7.      Cenderung menyentuh sesuatu untuk lebih mengenal sesuatu itu. Mereka memanfaatkan informasi dari indra sentuhnya dan mengintegrasikan dengan latar belakang pengetahuannya. Berbagai pengetahuan menjadi lebih lengkap dengan kecenderungan menyentuh ini. Oleh karena itu, mereka tidak puas hanya sekedar melihat objek, tapi menyentuhnya untuk meyakinkan hasil pengamatan, menguji hipotesisnya, sekaligus memperoleh informasi dari sumber taktil (sentuhan).
8.      Menikmati kegiatan yang menantang bahaya yang menegangkan. Mereka tidak takut jatuh, tidak takut terluka. Mereka senang memanjat, berguling, meniti titian, dan aktivitas lain yang menantang dan menegangkan.
9.      Menganggap diri sebagai orang yang terkoordinasi. Mereka memiliki keyakinan yang tinggi terhadap kemampuan fisik. Mereka yakin dapat melakukan kegiatan fisik yang paling sulit sekalipun. Keyakinan tersebut membuat mereka dapat berani mencoba berbagai kegiatan motorik dan cenderung mengulangnya untuk mencapai kemampuan yang terbaik.
10.  Mempraktikkan suatu keterampilan yang baru. Mereka tidak sekedar membaca atau melihat video yang menggambarkan keterampilan tertentu, tetapi benar-benar akan mempraktikkannya.